Bayangkan menjadi seorang penulis muda di sebuah kota dimana kesustraan seperti Cerpen yang kita selesaikan di tengah malam terasa seperti surat tanpa alamat tujuan. Di mana kita bisa membagikannya? Kepada siapa kita bisa meminta masukan yang jujur? Dengan siapa kita bisa berdebat tentang moral dan keindahan dari sebuah metafora atau kekuatan sebuah diksi ?
Ketiadaan ruang itulah yang barangkali melahirkan perasaan terasing, kegelisahan eksistensial yang dialami oleh banyak manusia secara terpisah. Mendorong manusia untuk bergerak, untuk mengubah keresahan personal menjadi puisi kolektif. Mereka menyadari bahwa jika ruang yang mereka dambakan tidak ada, maka mereka harus membangunnya.
Kesusastraan merupakan suatu platform kerja budaya yang dilakukan dalam senyap. Salah satunya adalah kerja puisi. Seperti denyut nadi kebudayaan yang seringkali berdetak tanpa pernah benar-benar didengarkan, dirayakan apalagi dihayati. Para pegiatnya, para sastrawan, seringkali menjadi para pekerja sunyi yang menenun kata dalam ruang remang, jauh dari sorot lampu dan panggung gemerlap.
Di jepara, komunitas bernama Yayasan Gaperto, melalui inisiatornya, Didid Endro S., Pembina Yayasan Gaperto menolak untuk membiarkan kesenyapan itu menjadi permanen. Mereka memutuskan untuk menyalakan lampu sorotnya.
Sebuah “Tegur Sapa” Bernama Anugerah
Dari pengalaman kerja kebudayaan untuk mendedikasikan hidup pada sesuatu yang kita yakini penting dalam kasanah budaya kita, namun seolah tak ada yang mengambil sikap. Keprihatinan yang melahirkan Anugerah Sastra Gaperto. Yang bukan sekadar piala atau piagam. Didid Endro S. menggambarkannya sebagai “tali asih,” sebuah gestur hormat yang tulus. Gagasan yang lahir dari ironi, kerja sastra yang begitu melelahkan justru sering diabaikan.
Didid menegaskan, seharusnya yang berdiri di garda terdepan untuk memberikan penghargaan ini adalah Pemerintah Daerah. Tindakan Gaperto, dengan demikian, menjadi dua hal sekaligus, perayaan bagi para sastrawan juga “sentilan” bagi pemangku kebijakan. Mereka seolah berkata, “Jika kami yang hanya komunitas kecil saja peduli, bagaimana dengan Anda yang memiliki wewenang lebih besar?”
Laboratorium Kreatif
Jika Anugerah Sastra adalah cara Gaperto menyalakan lampu sorot, maka Lomba Baca Puisi Kreatif (LBPK) yang sudah memasuki tahun ke-14 serta peluncuran buku puisi “Membaca Jepara (MJ)” Jilid 11 adalah cara mereka membangun ekosistem dan panggungnya. Didid Endro S. memberikan sebuah mantra yang menjadi daya hidup dari LBPK: “Ciptakan Ruang Baru.”
Apa artinya? Analogi sederhananya begini: banyak pembaca puisi datang ke panggung lomba seperti seorang tamu yang membawa perabotan lengkap dari rumahnya sendiri. Mereka sudah menyiapkan segalanya, lalu menatanya di tempat baru. LBPK menantang hal sebaliknya. Peserta diundang untuk datang dengan tangan kosong, lalu melihat “perabotan” apa yang sudah ada di lokasi sebatang pohon, sudut kafe yang temaram, suara deru motor di kejauhan dan meraciknya menjadi sebuah pertunjukan yang hidup dan menyatu dengan tempatnya.
Memindahkan teks puisi dari satu tempat ke tempat lain. sebuah proses alkimia kreatif, di mana teks, imajinasi, dan lingkungan sekitar dilebur menjadi satu kesatuan artistik yang utuh dan luruh. Lima “fakta” yang digariskan Didid (Tekstual, Imajinatif, Artistik, Dramatik, dan Eksekusi) bukanlah aturan kaku, melainkan sebuah peta untuk menavigasi proses penciptaan ruang baru tersebut.
LBPK, yang akan digelar pada 25 Oktober di Cafe Bejong Jepara, pada akhirnya adalah sebuah ajang belajar bersama. Menjadi penanda bahwa puisi tidak hidup di atas kertas semata, tetapi bernapas di ruang tempat ia dibacakan. Sebagai tanda dalam upaya untuk merawat ekosistem kebudayaan dari akar rumput. Mereka tidak menunggu bola dijemput, mereka menciptakannya sendiri.
Inisiatif koletif memaksa kita untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri kita sendiri, dalam konteks kebudayaan yang lebih luas, Seberapa sering kita sebagai masyarakat memberikan ruang gagasan bagi seniman dan pemikir di lingkungan kita sendiri ? Ketika sebuah komunitas lokal harus mengambil peran yang semestinya menjadi tanggung jawab negara dalam mengapresiasi budayanya sendiri, apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada identitas kolektif kita? Sudahkah kita benar-benar “Membaca” kebudayaan di kota kita, atau jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan keriuhan lainnya hingga membiarkannya dalam sunyi yang tak terbaca ?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar