Folks

Lakon Komedi Satir Wek – Wek oleh Keluarga Segitiga Teater KESET

✍ Djauharudin - 📅 14 Sep 2023

Lakon Komedi Satir Wek – Wek oleh Keluarga Segitiga Teater KESET
Djauharudin

Pada tahun 1960-an, seorang tokoh kesenian dan budaya bernama Djaduk Djajakusuma mengambil sebuah potret yang menggambarkan suasana ruang pengadilan yang penuh kekaburan. Dalam karya yang berjudul “Wek-Wek,” ia mengungkapkan dengan tajam permasalahan yang dihadapi oleh penegak hukum dalam menjalankan tugas mereka. Kepentingan utama adalah bagaimana membuat keputusan yang adil bagi mereka yang mencari keadilan.

Dalam usahanya untuk menggali lebih dalam masalah ini, D. Djajakusuma memperkenalkan kepada kita empat tokoh utama, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong pada masa itu. Keempat tokoh ini bukanlah sosok asing bagi mereka yang akrab dengan kisah-kisah pewayangan Jawa.


Pada saat itu banyak diskursus tentang relevansi tokoh-tokoh ini dengan permasalahan di pengadilan? Bagaimana mereka bisa membantu dalam mencapai keadilan yang diinginkan? apa hubungan antara keempat punakawan ini dengan masalah hukum yang diungkapkan oleh Djajakusuma ?

Dalam era ketika masalah hukum masih menjadi perbincangan serius, D. Djajakusuma memiliki cara yang unik untuk mengungkap permasalahan ini: melalui guyonan. Ia membawa kita dalam petualangan yang tak terduga dengan menghadirkan empat tokoh punakawan yang menjadi ikon guyonan tersebut. Keempat karakter ini sebenarnya merupakan simbol budaya yang hanya dikenal dalam pakem wayang ala Jawa. Mereka sering muncul setelah atau di sela-sela cerita pewayangan untuk memberikan hiburan kepada penonton yang setia. Menariknya, dalam epik Mahabharata dan Ramayana, tokoh-tokoh ini tetap anonim.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita telusuri lebih dalam pesan yang terkandung dalam karya Wek-Wek yang kali ini akan pentaskan oleh Teater KESET.

Masalah yang dialami oleh tokoh dalam naskah ternyata lebih dalam daripada yang terlihat. Perdebatan seputar telur dan bebek yang terkesan sepele sebenarnya mencerminkan masalah mendasar dalam komunikasi manusia. Kendati mungkin terdengar sepele, masalah bahasa adalah akar dari ketidakpahaman di antara mereka. Ini adalah masalah yang berkaitan dengan pemahaman simbol dan lambang.


Tidak heran bahwa dalam situasi ini, tokoh, yang berperan sebagai pengacara culas, berusaha untuk menjadi perantara antara tokoh lainnya. Meskipun upaya mereka untuk membantu adalah niat baik, komunikasi yang dihasilkan terkadang malah semakin membingungkan dan aneh. Perselisihan ini akhirnya harus dihadapi sebagai perkara hukum yang serius.

Ketidakjelasan komunikasi juga menciptakan ruang bagi tipu-menipu di antara berbagai karakter. Seperti yang sering terjadi dalam kehidupan, tipu-daya menjadi bagian dari permainan yang tak terelakkan, di mana setiap karakter harus menghadapi intrik yang lebih rumit dari yang lain. Dengan demikian, cerita ini menyoroti praktek kecerdikan dalam bentuk menipu, yang sebenarnya mencerminkan realitas kehidupan manusia.

Ini adalah gambaran yang mendalam tentang dinamika manusia dalam menghadapi perbedaan pendapat dan tuntutan hukum. Skenario ini mengungkapkan bahwa kompleksitas komunikasi dan kelicikan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses penyelesaian konflik dalam masyarakat.


” Sebuah kritik sosial tentang moral yang berada dimasyarakat, penggencetan dan semena mena yang sudah dianggap maklum oleh banyak orang, yang kalah akan selalu mencari celah dan yang menang akan selalu berbuat curang di lakonkan oleh noname (keset generasi baru) dengan khas komedi satir dan tentunya menggelitik. ” kata Zakky salah satu sesepuh Keluarga Segitiga Teater yang juga menjadi Dramaturg dalam pementasan lakon “ Wek Wek ” yang akan datang tersebut.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar