Esai

Kretek, Identitas Daerah dan Harapan Sektor Wisata

✍ Mentas - 📅 14 Jul 2023

Kretek, Identitas Daerah dan Harapan Sektor Wisata
Mentas

Oleh Mentas

Kudus, sebuah kabupaten yang terletak di pesisir utara (Pantura), terkenal sebagai produsen paling besar rokok kretek di Jawa Tengah. Namun, jangan berharap akan melihat ladang tembakau yang luas di kota kecil ini. Alasannya adalah tanah di Kudus, yang sebagian besar berupa tanah aluvial berwarna cokelat tua, tidak ideal untuk pertanian tembakau.


Jadi, dari mana asal usul julukan “kota kretek” bagi Kudus? Konon, sejarah kretek bermula di kota ini, ketika seorang penduduk Kudus bernama Haji Djamhari merasakan sakit di dadanya. Ia kemudian bereksperimen dengan mengiris cengkeh dan tembakau, lalu menggulungnya menjadi seperti bentuk rokok, yang kemudian diyakini sebagai pengilang rasa sakit didadanya. Suara “kretek kretek” dari cengkeh yang terbakar menjadi ciri khas temuannya, dan sisanya menjadi sejarah.

Di kawasan Taman Tanggul Angin, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terdapat sebuah monumen berupa gerbang masuk kota yang mewakili Kudus sebagai kota asal rokok kretek. Gerbang ini dianggap sebagai gerbang termegah di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. Gerbang Kudus Kota Kretek dibangun di sebelah timur Jembatan Tanggul Angin, yang memisahkan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak. Lokasinya berada di Jalan R. Agil Kusumadya, Kudus, sekitar 1 kilometer dari Terminal Induk Kudus. Bangunan gerbang dirancang menyerupai daun tembakau yang melindungi sisi kiri dan kanan jalan. Tinggi Gerbang Kudus Kota Kretek mencapai 12 meter di atas permukaan jalan, dengan lebar bangunan sekitar 21 meter. Replika daun tembakau menggunakan bahan stainless steel khusus yang diimpor dari Australia. Replika tersebut memiliki 100 tulang logam, dengan 50 tulang di sisi kiri dan 50 tulang di sisi kanan. Struktur penyangga replika daun tembakau didesain menyerupai bunga cengkih. Terdapat dua replika campuran rokok kretek yang berfungsi sebagai penyangga struktur replika daun tembakau di tengah median jalan. Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) telah dibuka untuk umum sejak awal tahun 2015, dan keindahannya segera terlihat. Banyak pengendara yang mengurangi kecepatan dan berhenti di tepi jalan untuk menyaksikan megahnya gerbang ini. Pemerintah berharap GKKK dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi Kabupaten Kudus.

Selain itu, Kudus juga memiliki museum kretek satu-satunya di Indonesia. Museum ini terletak di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati. Di dalam museum, terdapat berbagai koleksi yang menceritakan perkembangan kretek di tanah Jawa. Museum Kretek didirikan pada tahun 1986 di atas lahan seluas 2,5 hektar atas inisiatif Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah, setelah melihat potensi besar industri kretek yang dapat mendorong perekonomian masyarakat di kota tersebut. Museum ini menyimpan 1.195 koleksi terkait sejarah kretek, seperti peran Nitisemito dalam mendirikan Pabrik Rokok Bal Tiga, dokumen-dokumen perusahaan pada masa lalu, peralatan tradisional dan modern dalam pembuatan rokok, diorama tentang berbagai jenis tembakau cengkeh, diorama tentang proses pembuatan rokok di pabrik, dan banyak lagi. Di sekitar kompleks museum, terdapat beberapa miniatur bangunan cagar budaya, seperti Oemah Kembar Nitisemito yang dianggap sebagai saksi bisu kejayaan Nitisemito sebagai Raja Kretek, Masjid Wali Loram Kulon dengan gapura padureksan yang menjadi ikonik, dan Rumah Adat Kudus “Joglo Pencu” yang menggabungkan arsitektur dari budaya Jawa (Hindu), Persia (Islam), Cina (Tionghoa), dan Eropa (Belanda).


Identitas Daerah Dalam Hubungannya Dengan Ekonomi Kreatif


Dengan memperhatikan lalu lintas wisatawan yang silih berganti datang dan pergi ke Kabupaten Kudus, pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata di daerah Kudus perlu dibicarakan kembali. Sehingga penginapan, kuliner, transportasi, pasar rakyat, industri – industri lain yang terkait hingga masyarakat daerah tersebut dapat merasakan dampak positif dari hal ini.

Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan, penting bagi kota ini untuk mempertahankan citra dan brandnya. Dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang pesat, inovasi dalam menciptakan destinasi baru atau rebranding destinasi yang sudah terbengakali menjadi hal yang penting. Penting juga untuk mengevaluasi minat masyarakat lokal dan interlokal terhadap identitas daerah sebagai salah satu faktor yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai contoh, persoalan yang dikutip dari Joglojateng.com Sabtu (24/12) tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Museum Kretek, yang mencapai 93,58% dari target Rp 721 juta, perlu diperhatikan. Meskipun PAD belum mencapai target, Museum Kretek tetap berusaha mencapainya pada bulan-bulan yang tersisa. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Museum dan Taman Budaya Kudus, Yusron, saat itu menjelaskan bahwa faktor cuaca dan peningkatan kasus Covid-19 menjadi penyebab utama menurunnya jumlah pengunjung Museum Kretek.

Dalam beberapa tayangan pemberitaan tentang kantong – kantong pariwisata, terdapat satu hal penting yang sering terlupakan, yaitu bagaimana menciptakan konsep citra daerah bermuatan lokal secara estetis sehingga memberikan kesan mendalam tanpa mengorbankan makna esensialnya. Identitas daerah memiliki dua fungsi penting, yaitu fungsi internal dan fungsi eksternal.

Fungsi internal identitas daerah melibatkan kekuatan pemersatu bagi masyarakat setempat untuk mencapai visi dan cita-cita bersama. Identitas daerah juga dapat menjadi semacam suplemen dalam diri setiap individu dalam masyarakat untuk terus tumbuh dan mengembangkan potensi daerah. Merepresentasikan kecerdasan lokal dan dapat menjadi kekuatan dalam mengintegrasikan budaya dari luar menjadi bagian positif dalam budaya lokal.

Fungsi internal lain dari identitas daerah adalah menjadi semacam perlindungan terhadap ancaman virus yang berbahaya. Misalnya, semangat perlawanan terhadap bentuk penindasan politik dan sosio-budaya, ekonomi, hingga strategi – strategi tertentu yang digunakan tokoh pendahulu untuk dimaknai menjadi ilmu yang masih relevan apabila dipadukan dengan pengetahuan hari ini dalam upaya pertahanan zaman, yang tercermin dalam karakter tokoh lokal seperti Nitisemito dan H. Djamhari.

Kisah mereka merepresentasikan perjuangan kretek yang diakui oleh banyak orang sebagai cikal bakal identitas Kabupaten Kudus sebagai kota kretek. Hal ini akan diangkat oleh Komunitas Seni Samar melalui konsep Sendratari sebagai duta seni Kabupaten Kudus di TMII Jakarta pada bulan Juli ini.

Fungsi eksternal identitas daerah adalah sebagai pengenal dan citra positif bagi daerah tersebut, menarik minat masyarakat dari skala regional hingga global, serta memungkinkan transfer pengetahuan, dialektika sosial budaya, dan interaksi antar peradaban. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan, terutama pihak berwenang daerah, sebaiknya memperhatikan dan mempromosikan karya seni dan produk lokal sebagai bagian dari pembangunan peradaban estetika di daerah tersebut.

Proses pembentukan identitas daerah atau place branding melibatkan beberapa tahapan, seperti identifikasi potensi lokal, menentukan visi dan tujuan, komunikasi kepada publik, serta membangun koherensi. Dalam merumuskan identitas daerah, partisipasi masyarakat dalam proses pembahasan sangat penting agar tercipta rasa memiliki, merawat, dan menjaga keberlanjutannya. Tahapan ini dapat diringkas menjadi gerakan bersama, kesadaran kolektif, dan budaya bersama.

Secara sederhana, pembentukan identitas daerah atau place branding membutuhkan kerjasama dan kesadaran kolektif masyarakat, sehingga identitas daerah tersebut dapat tumbuh dan menjadi bagian dari budaya lokal.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar