Fenomena Post Truth
Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Studi komunikasi antarbudaya fokus pada pengaruh budaya terhadap komunikasi, adalah elemen kunci dalam proses adaptasi seseorang. Komunikasi antarbudaya, sering dianggap sebagai bentuk komunikasi antarpribadi, memperhatikan faktor-faktor kebudayaan yang mempengaruhinya. Dalam situasi semacam itu, kita dihadapkan pada tantangan menyandi pesan dalam suatu budaya dan menerjemahkannya dalam budaya lain.
Manusia, sebagai makhluk sosial, selalu berinteraksi dengan sesamanya, adat istiadat, norma, pengetahuan, dan budaya di sekitarnya. Komunikasi antarbudaya terjadi dalam konteks kebudayaan yang berbeda, mencakup bahasa, norma, adat istiadat, dan kebiasaan. Proses komunikasi antarbudaya sering kali membawa keterkejutan budaya, memperkenalkan perbedaan yang mungkin sulit diterima atau diadaptasi, seperti perbedaan teknologi, kebiasaan dari teman berbeda daerah, atau norma dari suatu daerah yang berbeda dengan asal kita.
Dalam setiap kegiatan komunikasi, hambatan-hambatan beragam pasti akan muncul, mempengaruhi efektivitas proses tersebut. Komunikasi antarbudaya juga tak luput dari masalah-masalah yang muncul. Salah satu kendala utama adalah perbedaan bahasa, termasuk perbedaan makna simbol-simbol yang digunakan, logat, intonasi, dan tekanan dalam bahasa. Semua ini menjadi tantangan dalam komunikasi antarbudaya.
Menurut pandangan Yuval Noah Harari, manusia memiliki kemampuan unik dalam membentuk konsep-konsep abstrak dan kepercayaan kolektif, seperti agama, negara, dan pasar. Kemampuan ini memungkinkan manusia membentuk masyarakat kompleks untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan yang sulit diakses secara individu.
Harari menyoroti fakta bahwa manusia modern telah menciptakan teknologi canggih, namun seringkali tidak dapat mengelola dampak negatifnya. Dalam bukunya “manusia”, Harari menggambarkan keistimewaan bahasa manusia spesies Sapiens. Bahasa Sapiens lebih fleksibel dan mampu menyampaikan informasi yang lebih kaya dibandingkan dengan bahasa spesies lain. Bahasa ini memungkinkan penyampaian informasi detail tentang dunia sekitar, memberikan manusia kemampuan untuk merencanakan dan beradaptasi dengan lingkungan mereka secara lebih efektif.
Gosip, merupakan bagian dari bahasa yang digunakan oleh manusia, menjadi alat yang efektif untuk menjelaskan aspek-aspek manusia itu sendiri. Sebagai hewan sosial, keberhasilan dan kelangsungan hidup Sapiens bergantung pada kerjasama sosial. Dalam interaksi sosial, topik pembicaraan seringkali berkisar pada anggota kelompok, seperti kejujuran, kebohongan, pengkhianatan, dan sebagainya. Yuval Noah Harari (2014) menyebutnya sebagai “ketrampilan bergosip,” di mana Sapiens menghabiskan waktu berjam-jam untuk membangun dan mengembangkan kerjasama sosial melalui proses ini.
Meskipun gossip memiliki jangkauan terbatas, terfokus pada kelompok orang yang saling mengenal secara personal, hal ini memperkuat kerja sama sosial dalam lingkup yang lebih dekat, seperti keluarga atau anggota kampung. Dengan kata lain, gossip berfokus pada hubungan kekerabatan atau lingkungan sosial yang erat. Secara kuantitatif, gossip hanya mengaitkan beberapa orang dalam interaksi sosialnya.
Selain gossip, bahasa yang digunakan oleh manusia mampu menciptakan mitos dan fiksi. Bahasa memungkinkan Sapiens tidak hanya membayangkan hal-hal yang belum pernah dialaminya dalam dunia nyata, tetapi juga mendorong tindakan kolektif. Mitos, seperti yang terkait dengan agama atau bangsa, dapat memotivasi tindakan sosial yang seragam di kalangan mereka yang mempercayainya. Daya magis fiksi ini menjelaskan bagaimana kerjasama dalam skala besar, seperti membangun negara atau komunitas agama, bermula dari imajinasi kolektif. Fiksi menjadi elemen konstruktif dalam menciptakan kerjasama sosial yang lebih besar, membangun identitas kolektif dan kebersamaan berdasarkan “realitas yang dikhayalkan.”
Uniknya, bahasa manusia, khususnya bahasa manusia, memungkinkan mereka untuk menyampaikan konsep atau informasi tentang sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam pengalaman nyata mereka. Kemampuan ini membuat Sapiens dapat bercerita tentang masa lalu yang belum pernah mereka alami, menggambarkan situasi saat ini yang belum mereka lihat, atau merencanakan masa depan yang belum tentu mereka raih. Bahasa ini menjadi alat yang unik dan tidak dimiliki oleh binatang lain, termasuk saudara dekat manusia seperti simpanse atau gorila, serta spesies manusia lainnya. Meskipun belum ada penjelasan yang sangat meyakinkan tentang mengapa manusia memiliki kapasitas bahasa yang unik ini, hipotesis evolusi menyarankan bahwa kemampuan berbahasa ini mungkin muncul secara kebetulan dalam evolusi manusia.
Di abad ke-21, kita tengah menjalani periode yang mengagumkan dalam kehidupan kita. Langkah masuk ke dalam komunitas global yang terintegrasi menjadi kenyataan, dimulai oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Era ini menjadi tonggak kemajuan dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan bahasa. Kita sekarang memiliki kemampuan baru untuk berekspresi dan mengalirkan informasi dengan leluasa, menciptakan lanskap virtual yang begitu luas.
Bayangkan sejumlah besar situs yang kita kunjungi, email yang kita kirim, dan kisah-kisah yang kita baca secara online. Fakta-fakta yang ribuan orang telaah setiap detik, dan berjuta cerita fiksi yang kita pertimbangkan kebenarannya. Setiap hubungan yang kita bangun, setiap perjalanan yang kita rencanakan, dan setiap pertemuan di dunia maya membentuk bagian dari realitas digital yang semakin meluas.
Seiring dengan perluasan ruang digital, pemahaman manusia tentang hidupnya berubah secara signifikan. Tidak hanya pada hal-hal sepele, namun juga pada pertanyaan mendasar tentang jati diri, hubungan, dan keamanan identitas. Semua pembatasan yang ada pada masa lalu kini runtuh, memberikan ruang bagi aliran baru dan kreativitas manusia yang mulai muncul.
Kemajuan kebebasan berpikir menuntut manusia untuk menjadi lebih rasional dalam proses nalar kritisnya, menjadi bagian integral dari integrasi antara kemajuan teknologi dan pemikiran publik yang rasional. Sejalan dengan itu, arus informasi terus mengalir tanpa henti, memaksa publik untuk hidup dalam logika waktu yang singkat. Hal ini menyebabkan kurangnya seleksi terhadap informasi yang diterima, karena segalanya harus cepat dan ringkas tanpa refleksi kritis terhadap kebenaran dan objektivitas berita.
Meskipun internet memungkinkan munculnya berbagai macam ide dan informasi, sebagian besar di antaranya cenderung kontroversial, mulai dari teori konspirasi hingga penyebaran hoaks. Selain itu, dampak internet tidak hanya membuat kita lebih tahu, tetapi juga dapat membuat kita lebih kejam, akibat distorsi informasi yang disajikan. Di dunia maya, sebagian dari kita enggan menguji informasi secara mendalam, lebih suka mengecilkan opini orang lain yang berbeda, bahkan hingga melakukan penghinaan dan serangan.
Perjalanan digital membawa kita pada suatu era di mana kekaguman tidak lagi terletak pada esensi, melainkan pada eksistensi. Orang cenderung mengagungkan hal yang memiliki pesona, genit, sensitif, dan manipulatif. Aksesoris menjadi kajian utama dalam pola hidup masyarakat modern, sedangkan hal-hal kritis dihindari karena menjemukan, manusia mulai malas untuk memikirkan keberadaan dan identitas dirinya. Kemajuan teknologi digital memungkinkan segalanya terjadi dengan cepat, dan inilah yang membawa kita ke era Post-Truth, yang dipenuhi dengan manipulasi, masalah identitas, dan kejutan. Dengan kata lain, kemasan selalu memegang peranan penting.
Ironisnya, banyak individu, maupun dalam kelompok, gampang terjebak dalam serangan informasi yang beredar luas. Meskipun ada upaya untuk mencari rasionalitas dalam nalar kritis, tetapi seringkali terjadi resistensi. Beberapa orang tidak lagi mempercayai pandangan-pandangan lama dan mitos yang tidak rasional, namun ada juga yang justru mengagungkan pemikiran irasional dan cerita mitos. Era digital memberikan panggung bagi pergeseran ini, di mana sensasi dirayakan sementara esensi terabaikan.
Di Indonesia, kita sering melihat orang yang terjebak dan mencari sensasi dalam gelombang informasi yang terus mengalir dengan pesat, didorong oleh kemajuan teknologi. Informasi ini tidak selalu ditujukan untuk menangkap kenyataan, tetapi sering kali untuk mengarahkan harapan publik dan memicu emosi sosial, terutama melalui judul berita yang menarik dan konten berisi sensasi. Tingkatkan sensitivitas Anda dan lihatlah betapa beragamnya judul berita dan isinya ketika Anda membuka media sosial atau platform media elektronik.
Meskipun masih banyak yang belum memahami fenomena ini, kenyataannya adalah bahwa istilah tersebut telah meresap dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari kita. Ruang publik saat ini sangat dipengaruhi oleh media sosial digital, menciptakan era di mana kebenaran telah tergantikan oleh banalitas penuh kebohongan, dikenal sebagai era Paska Kebenaran atau Post-Truth. Bullshit, atau omong kosong, tidak hanya melampaui dusta tetapi juga menjadi disrupsi besar-besaran dalam dunia politik, diperparah oleh teknologi digital yang mempercepatnya menjadi suatu krisis. Ini mengancam demokrasi yang normalnya didasarkan pada rasionalitas, fakta, dan kebenaran. Publik terkecoh oleh omong kosong yang disajikan seolah-olah itu kebenaran, menyebabkan kekaguman dan kebingungan.
Kita berada dalam posisi dilematis di era digital ini, di mana rasionalitas hidup berdampingan dengan aneka ragam mitos di ruang publik. Mitos ini bekerja melalui penyebaran hoaks, mengakibatkan upaya manusia untuk menjadi lebih rasional malah terjerumus dalam irasionalitas. Perkembangan teknologi yang seharusnya membawa ke dalam peradaban yang lebih maju justru memicu kemunduran dan disintegrasi.
Gejala emosi sosial muncul, mengelabui individu untuk bersikap barbar terhadap sesama. Ilmu pengetahuan dan teknologi, yang seharusnya memberikan martabat dan kebebasan pada manusia, malah menjadi alat untuk menjebak dan memenjarakan mereka dalam ideologi dan fanatisme.
Menghadirkan kompleksitas tekanan arus yang luar biasa, menciptakan apa yang disebut sebagai “world polygamy,” di mana kita hidup dalam banyak dunia sekaligus. Masalah identitas berkembang hingga mencapai titik temu antara komunitas, dengan teknologi memungkinkan komunitas-komunitas kecil untuk mengisolasi diri mereka sendiri. Keterbukaan informasi justru mempersempit identitas individu ke dalam kelompok-kelompok kecil seperti keluarga, komunitas sosial, organisasi, dan lainnya.
Fenomena Post-Truth memberikan sinyal bahwa manusia harus bijaksana untuk mempertahankan eksistensinya serta mau memahami akan pentingnya nilai – nilai kemanusian dengan disrupsi teknologi. Meskipun teknologi memberikan aksesibilitas yang mudah, kita harus berhati-hati agar tidak terjerat dalam ruang gerak yang penuh kebingungan, sulit membedakan antara lawan dan kawan, serta mengidentifikasi kompetitor dan kolaborator. Kerjasama, kepercayaan akan gagasan nilai kemanusiaan adalah kunci, di mana konektivitas membantu aksesibilitas dan akselerasi, sementara kolektivitas membantu mobilitas dan jejaring. Dialog kritis, kajian nilai – nilai kebudyaaan, ruang temu untuk berekspresi, pemajuan kebudayaan dalam membangun pendidikan untuk saling berkomunikasi secara nyata, sangat diperlukan hari ini sebagai cermin simpul perekat antara konektivitas dan kolektivitas.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar