Esai

Ketika Budaya adalah Pariwisata dan Kuliner, Kita Sedang Bicara Apa?

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 28 Mar 2026

Ketika Budaya adalah Pariwisata dan Kuliner, Kita Sedang Bicara Apa?
Melly Fardiani Tasmara

Oleh Melly Fardiani Tasmara , Melly Fardiani Tasmara adalah pribadi yang aktif dalam bidang sastra dan kesenian. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan seni serta aktif...

Ketika mendengar kata "budaya", kebanyakan orang langsung terpikir kuliner, tradisional, musik daerah, batik, atau makanan khas hingga paket - paket wisata. Wajar — keduanya memang paling mudah dilihat dan dirasakan. Tapi justru di situlah masalahnya. Kita telah terlalu lama menyamakan budaya dengan hal-hal yang bisa ditampilkan, sementara bagian terbesarnya justru tidak pernah kita sadari.

Cara Hidup

Para cendekiawan dari berbagai latar belakang sudah lama mengingatkan hal ini. Menurut antropolog Clifford Geertz, kebudayaan adalah jaringan makna yang dipakai manusia untuk memahami hidupnya. Sementara itu, Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup tiga wujud sekaligus: ide dan gagasan yang abstrak, aktivitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat, dan mencakup benda-benda hasil karya dan kerja manusia. Dari sudut pandang ini, cara kita berpikir, mengambil keputusan, menjalin hubungan, dan menyikapi kekuasaan semuanya adalah bagian dari kebudayaan bukan hanya apa yang kita pertunjukkan dan kita sajikan.

Pemikiran serupa juga datang dari tokoh perempuan Indonesia. Toeti Heraty dalam bukunya, Aku dalam Budaya (1979) menuangkan gagasannya tentang relasi subjek-objek antara manusia dengan budaya. Bagi Toeti, manusia bukanlah objek pasif yang dibentuk budaya, melainkan subjek aktif yang bertindak dan memberi makna dalam relasinya dengan budaya. Ini penting sebab jika kita hanya merayakan budaya tanpa pernah mempertanyakannya, kita justru melepaskan posisi kita sebagai subjek dan membiarkan budaya bekerja atas kita tanpa kita sadari.

Ini Bukan Kebetulan

Cara pandang yang menyempitkan ini bukan muncul begitu saja; ada jejak sejarah yang membentuknya. Pada masa Orde Baru, kebudayaan sengaja dikemas menjadi simbol identitas yang rapi dan tidak mengusik. Ekspresi budaya yang kritis tidak diberi ruang. Akibatnya, kita terbiasa melihat budaya sebagai sesuatu yang indah untuk dipamerkan, bukan sebagai alat untuk memahami kehidupan. Logika pariwisata memperparah hal ini, kita perlahan mulai mengenali identitas kita sendiri melalui apa yang layak dijual kepada orang luar, bukan dari apa yang sungguh-sungguh kita jalani sehari-hari.

Budaya bekerja di banyak bidang yang jarang kita sadari. Di ekonomi, cara orang tawar-menawar di pasar mencerminkan nilai kepercayaan dan hubungan sosial. Di teknologi, kebiasaan menyebarkan informasi tanpa verifikasi mencerminkan bagaimana masyarakat memandang kebenaran. Di politik, kecenderungan memilih figur daripada program adalah cerminan budaya, bukan semata urusan elektoral. Di moral, nilai gotong royong atau rasa malu bukan konsep abstrak melainkan pedoman nyata yang membentuk perilaku sehari-hari.

Ritual

Praktik budaya seperti Sedekah Bumi adalah salah satu contoh bukti bahwa budaya bekerja jauh lebih dalam dari yang tampak di permukaan. Bagi masyarakat Jawa, ini bukan rutinitas biasa. Tumpeng, cabai, kedelai, dan berbagai hasil bumi yang disajikan masing-masing menyimpan makna tentang hubungan manusia dengan alam dan keyakinan yang mereka pegang. Begitu pula tradisi sasi di Maluku seperti larangan adat mengambil hasil alam dalam jangka waktu tertentu yang ternyata memiliki fungsi ekologis nyata, memberi waktu ekosistem untuk pulih. Inilah yang dimaksud sistem pengetahuan lokal: bukan takhayul, melainkan kearifan yang lahir dari pengamatan panjang terhadap alam.

Yang Hilang

Ketika budaya hanya kita rayakan tanpa pernah kita analisis, renungkan, pertanyakan, kita kehilangan kemampuan untuk memahami diri sendiri secara kritis. Kita tidak lagi bisa mempertanyakan praktek korup terus dimaklumi, mengapa kerusakan lingkungan terjadi di tengah masyarakat yang mengaku punya kearifan lokal, atau mengapa ketidakadilan diterima dengan diam. Seperti yang diungkapkan Geertz, jika jaring-jaring makna itu tidak pernah kita lihat dan pertanyakan, maka kita tidak sedang hidup dalam kebudayaan tetapi kita sendiri sedang terjebak di dalamnya tanpa menyadarinya.

Dan seperti yang ditunjukkan Koentjaraningrat, budaya bukan hanya artefak karena kebudayaan juga hidup dalam sistem gagasan dan pola tindakan yang mengatur seluruh kehidupan masyarakat. Sedangkan Toeti Heraty mengingatkan bahwa selama sebagian besar anggota masyarakat khusunya peremuan tidak diakui sebagai subjek yang membentuk budaya, maka narasi budaya yang kita banggakan itu tidak pernah benar-benar utuh.

Maka dua pertanyaan besar perlu kita hadapi: Siapa yang diuntungkan kalau masyarakat terus merayakan budaya tanpa pernah mengkritisinya?

Kalau praktik budaya terbukti punya pengetahuan yang berguna, kenapa ilmu modern dan kebijakan belum menganggapnya setara?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar