Esai

Kentrung Golek – Aset Budaya Yang Terbengkalai

✍ Dian Puspita Sari - 📅 19 Nov 2023

Kentrung Golek – Aset Budaya Yang Terbengkalai
Dian Puspita Sari

Kentrung merupakan kesenian raktyat berupa seni tutur yang dalam pertunjukannya disertai iringan musik rebana. Isitlah Kentrung sendiri muncul dalama masyarakat Jawa ketika mendengar iringan rebana yang berbunyi trung…. trung…. trung maka masyarakat lantas menamakan jenis kesenian tersebut ” Kentrung “. Seni tutur serupa kentrung tidak hanya berkembang di Jawa saja namun hampir diseluruh Indonesia. Masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat mengenal seni rakyat ” Bakaba ” yang berarti memberi kabar. Bgitupun di daerah lain seni kentrung dikenal dengan istilah yang berbeda pula.

Kentrung disebut sebagai kesenian rakyat karena memang disajikan ditengah rakyat kecil deng bentuk pertunjukan yang sederhana, berbeda dengan pertunjukan wayang purwa yang merupakan tontonan para bangsawan dan disajikan komplit dengan seperangkat gamelannya. Pertunjukan kentrung biasanya menggunakan rebana dan jidur saja atau dalam kentrung Jawa Timuran, biasa menggunakan kendang.

Kentrung pada awalanya disajikan berkeliling (mbarang kentrung). Dalang kentrung biasa bermain sendiri dalam satu pertunjukan sebagai pencerita sekaligus pemusik, ataupun dibantu oleh pemain musik yang lain (panjak). Dalang kentrung bertulr atau berkisah tentang suatu cerita yang kemudian disaksikan banyak orang. Dalang kentrung yang baik akan dapat mempengaruhi penonnton untuk percaya tentang kusah yang dituturkan. Tidak salah jika kemudian kentrung disebut sebagai seni yang sekaligus berperan sebagai media dakwah (Islam) karena cerita serat menak atau cerita – cerita panji pada zaman Kediri, Singasari dan Majapahit. Konon kesenian merupakan kesenian rakyat yang terbebas dari pakem yang dapat menyajikan kreasinya sendiri sesuai kebiasaan masyarakat setempat, maka kesenian Kentrung banyak mengalami perkembangan bentuk dan variasi.

Dalam perkembangan kini, seni kentrung sampai pada pada penambahan media wayang golek sebagai perwujudan tokoh dalam cerita. Bentuk perkembangan tersebut hanya bisa ditemukan di Kudus dan biasa disebut ” Kentrung Golek “. Kentrung Golek menjadi sebuah pertunjukan lengkap karena memiliki semua aspek pertunjukan berupa drama, musik, sastra lisan dan pedalangan serta penggunaan bahasa ungkap yang tidak hanya menggunakan dialog antar tokoh namun dalang juga menyuguhkan shalawat nabi, doa, mantra, parikan – parikan dan tembang – tembang.


Namun sangat disayangkan kesenian Kentrung Golek yang merupakan aset budaya di Kabupaten Kudus kini hampir punah. Siapa berani membela ?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar