Kebudayaan kontemporer hidup di bawah cahaya yang terlalu terang, cahaya pengetahuan. Bioteknologi memetakan kehidupan, neuroteknologi membaca pikiran, dan fisika kuantum menyingkap dasar materi hingga ke tingkat yang nyaris metafisik. Namun dalam upaya memahami dunia secara total, manusia justru kehilangan misteri yang dahulu menjadikannya manusia.
Sains modern tidak lagi hanya menjelaskan alam, melainkan membentuk horizon cara berpikir manusia. Dalam horizon inilah lahir keyakinan khas modernitasm: realisme, yakni pandangan bahwa dunia ilmiah adalah representasi paling akurat dari kenyataan. Dalam pandangan ini, fakta menjadi bahasa tunggal yang mengatur cara kebudayaan memahami dirinya.
Tetapi ketika kebudayaan menyerahkan diri pada realisme yang keras, cenderung kehilangan kemampuan untuk menafsir. Pengetahuan berubah menjadi bentuk dogma baru, sebuah kebenaran tanpa ruang bagi keraguan dan kemungkinan. Realisme ilmiah berangkat dari keyakinan bahwa dunia memiliki struktur yang dapat dipahami secara objektif dan bahwa teori ilmiah mencerminkan struktur itu dengan benar. Seperti yang ditunjukkan oleh Thomas Kuhn (1962) dalam The Structure of Scientific Revolutions, pengetahuan ilmiah selalu terbentuk melalui paradigma, sebuah kerangka konseptual yang tidak netral terhadap konteks sosial dan budaya.
Dengan kata lain, fakta ilmiah tidak pernah berdiri sendiri. Melainkan lahir dari jaringan eksperimental, bahasa, dan konsensus komunitas ilmiah. Bruno Latour (1993) menyebut fakta sebagai fakta-konfeksi—sesuatu yang “diproduksi dengan sangat hati-hati sehingga tampak alami.”
Realisme, dalam pengertian ini, tidak hanya menjadi posisi epistemologis tetapi juga politik budaya. Menuntut kepercayaan pada citra dunia yang tunggal atau dunia yang bisa dijelaskan, diukur, dan direpresentasikan sepenuhnya. Michel Foucault (1972) mengingatkan bahwa setiap sistem pengetahuan mengandung relasi kuasa dan di balik klaim objektivitas, selalu ada bentuk pengaturan wacana yang menyingkirkan suara lain.
Maka, ketika sains menjadi paradigma tunggal kebudayaan, bentuk-bentuk pemahaman yang bersifat simbolik, mitologis, atau reflektif sering dianggap tidak sahih. Padahal kebudayaan, sebagaimana ditunjukkan oleh Clifford Geertz (1973), hidup dari penafsiran berlapis dan dari makna yang tak pernah selesai dibaca. Dalam kebudayaan sains modern, alat-alat teknologi tidak hanya memperluas pengetahuan, melainkan juga mengubah cara manusia mengalami dunia.
Neuroteknologi, misalnya, menjanjikan kemampuan untuk memetakan kesadaran, tetapi pada saat yang sama mengubah kesadaran menjadi objek yang dapat dipindai. Kebenaran tentang manusia bergeser dari pengalaman ke data, dari makna ke metrik. Heidegger (1977) mengingatkan bahwa teknologi bukan sekadar sarana, tetapi cara keberadaan menyingkap dirinya. Ketika dunia dipahami sepenuhnya sebagai sumber daya—standing-reserve—maka segala yang ada, termasuk manusia, tereduksi menjadi fungsi dari sistem pengukuran.
Byung-Chul Han (2012) menambah lapisan kritik ini dengan menyebut bahwa masyarakat kini terjebak dalam tirani transparansi, keinginan untuk menjadikan segala sesuatu tampak, menghapus misteri, dan akhirnya menyingkirkan kedalaman. Dalam budaya seperti itu, keheningan dianggap kesalahan, dan keraguan dianggap kelemahan. Kebudayaan modern hidup dalam paradoks: ia dipenuhi informasi, tetapi kekurangan pemahaman.
Segala sesuatu dapat dijelaskan, namun semakin sedikit yang dimengerti. Hermeneutika, dalam makna dasarnya sebagai kesediaan untuk menunda kesimpulan menjadi langka. Paul Ricoeur (1984) menyebut pemahaman sebagai proses “menjadi melalui waktu.” Makna tidak hadir seketika; tetapi ia tumbuh melalui dialog antara teks dan pembacanya. Namun budaya ilmiah yang diatur oleh kecepatan publikasi dan logika efisiensi tidak memberi tempat bagi dialog semacam itu.
Di sinilah kritik terhadap realisme menemukan relevansinya: bukan untuk menolak sains, tetapi untuk menolak klaim bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Kebudayaan membutuhkan pluralitas cara memahami dunia termasuk mitos, seni, dan pengalaman yang tak bisa diukur oleh rumus. Hannah Arendt (1958) mengingatkan bahwa berpikir, menjadi cerdas bukanlah kegiatan menemukan fakta, melainkan memelihara dialog batin tentang makna. Ketika pengetahuan kehilangan kemampuan reflektif ini, manusia berisiko menjadi pelaku tanpa kesadaran, seperti yang terjadi pada “banalitas kejahatan” dalam konteks politik modern.
Sains tanpa kebudayaan menjadi sistem dingin tanpa refleksi, sementara kebudayaan tanpa sains menjadi mitos tanpa arah. Tugas reflektif zaman ini adalah memulihkan keseimbangan antara keduanya, membaca pengetahuan sebagai teks kebudayaan yang harus terus ditafsir ulang.
Karena pada akhirnya, realisme hanyalah satu cara melihat dunia, bukan satu-satunya. Dan pengetahuan yang tidak membuka ruang bagi tafsir, lambat laun akan menjadi kebutaan yang menganggap dirinya terang.
Daftar Pustaka :
- Adorno, Theodor W., dan Max Horkheimer. Dialectic of Enlightenment. New York: Herder and Herder, 1972.
- Arendt, Hannah. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press, 1958.
- Foucault, Michel. The Archaeology of Knowledge. New York: Pantheon Books, 1972.
- Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.
- Han, Byung-Chul. The Transparency Society. Stanford: Stanford University Press, 2012.
- Heidegger, Martin. The Question Concerning Technology and Other Essays. New York: Harper & Row, 1977.
- Kuhn, Thomas S. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: University of Chicago Press, 1962.
- Latour, Bruno. We Have Never Been Modern. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1993.
- Ricoeur, Paul. Time and Narrative, Vol. 1. Chicago: University of Chicago Press, 1984.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar