Ruang lantai dua di Sunflow House Jepara menjadi sebuah ruang hangat dan dekat. Malam itu, Diskusi Road to FFAB 2026 part #3 yang digelar oleh GsT Production menjadi sebuah oase bagi insan film Jepara dan kota sekitarnya, Minggu malam, 29 Maret 2026.
Berdekatan dengan Hari Film Sedunia yang diperingati pada 30 Maret, berada di ruang yang penuh praktisi film dan akademisi serta seniman yang datang dari Muria Raya (Jepara, Kudus, Pati) menjadi alasan, kami menatap layar, dan membiarkan cerita-cerita sederhana mengambil alih perasaan.
Diskusi hangat ini menghadirkan salah satu karya yang diam-diam membekas, Mulih, sebuah film yang tidak berteriak keras, tetapi justru berbisik pelan. Bahkan membuatnya sangat terasa dekat. Sebuah kisah yang mungkin setiap penonton pernah mengalaminya dengan POV-nya masing-masing.
Di baliknya, Cornel Innos meramu naskah, sebuah cerita sederhana. Dimulai dari seorang anak Bernama Rendra yang diperankan oleh Yehezkiel Fabian. Kisah yang berputar dengan anak kecil, nilai yang buruk, dan rasa takut yang semakin membesar terhadap sosok ayah yang akan kecewa bahkan mungkin marah. Disini, penonton disuguhi kisah tentang jarak-jarak emosional yang sering kali tidak disadari dalam hubungan keluarga.
Film ini bergerak dengan dinamika, seperti langkah kaki anak kecil yang berlari pulang dengan ketakutan. Kamera seolah ikut berlari, latar suara yang ikut berderu, mengikuti kecemasan yang mengendap.
Penonton diajak masuk ke ruang batin si anak. Sebuah ruang yang dipenuhi bayangan, prasangka, dan ketakutan yang tumbuh sendiri. Ilusi tentang ayah yang marah besar dan ketakutan yang semakin membesar karena merasa menyembunyikan sesuatu memainkan perasaan penonton.
Lalu datang satu momen yang mengubah ritme yaitu suara air seperti seseorang sedang mandi. Rendra yang bertanya-tanya apakah itu ayahnya. Karena sebelumnya dia tahu, ayah sedang pergi berboncengan dengan temannya. Dan benar, saat dibuka tak ada siapapun didalamnya. Dalam kondisi rumah yang sepi, suara yang terasa ganjil. Penonton mulai bertanya-tanya apakah ini nyata.
Ketegangan yang dibangun tanpa musik berlebihan, hanya melalui bunyi-bunyi yang familiar namun mempengaruhi psikologi, inilah yang mempermainkan perasaan penonton. Saat pintu kamar mandi dibuka, kekosongan menyambut. Tidak ada siapa pun.
Di titik itu, Mulih tidak sedang bercerita tentang hal gaib. Ia sedang memperlihatkan bagaimana ketakutan bekerja mengisi ruang kosong, menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Penonton tidak hanya melihat adegan, tetapi ikut merasakan disorientasi, seolah-olah ikut berada di dalam kepala si anak.
"Namun seperti kehidupan, film ini tidak membiarkan kita tinggal terlalu lama dalam gelap."
Menjelang akhir, suasana berubah pelan. Pintu terbuka, dan sosok ayah datang, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan semangkuk mie hangat di tangan. Tidak ada teriakan, tidak ada hukuman. Hanya ajakan sederhana: belajar bersama agar nilai test Rendra membaik.
Adegan ini terasa begitu manusiawi. Ketakutan yang sejak awal terasa besar perlahan runtuh, digantikan oleh kehangatan yang justru tidak dramatis. Dengan sebuah pesan yang dalam, bahwa kesuksesan perlu diusahakan.
“Di sinilah kekuatan Mulih, ia tidak mencoba menggurui, tetapi memperlihatkan bahwa cinta dalam keluarga sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, bahkan nyaris tak disadari.”
Di Hari Film Sedunia tahun ini, 2026, lewat film seperti Mulih kita diingatkan bahwa sinema bukan hanya tentang cerita besar atau efek spektakuler. Kadang, ia hanya tentang seorang anak, seorang ayah, dan sebuah pengertian antar keluarga. Namun dari hal-hal kecil itulah, kita belajar memahami diri sendiri dan mungkin, pulang (read: Mulih).
Septiana Wibowo, Penulis Buku "Bukan Kartini".
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar