Folks

FFAB 2026, Percakapan di Tepi Layar

✍ Huthao - 📅 30 Mar 2026

FFAB 2026, Percakapan di Tepi Layar
Huthao

Oleh Huthao , Hanya sebuah tanah yang di beri nyawa, tanah yang mampu dibentuk dan diukir oleh Pencipta yang paling bijak yang tahu...

Ada momen-momen tertentu dalam sebuah forum diskusi film ketika percakapan bergeser dari agenda acara menjadi sesuatu yang lebih jujur, lebih intim. 

Momen itu terjadi ketika Festival Film Anak Bangsa 2026 “Scene the Unseen” bertempat di Sunflo House, pemutaran film yang sudah berjalan (hari ini sudah putaran ke 3), bagian dari rangkaian acara "road to festival film anak bangsa 2026". 

Acara dibuka oleh Komisaris Utama GsT production Irianto Gunawan, dalam sambutannya beliau menantang insan film Jepara untuk turut dalam FFAB 2026. 

Usai menggelar sesinya, saya mencoba membuka percakapan dengan Innos, sebagai seseorang yang penasaran dengan karyanya.

Dari Panggung ke Layar

Innos bukan orang yang tiba-tiba mencintai film. Datang dari dunia pertunjukan dari panggung teater yang bicara soal horison peristiwa, dari musik yang mengalir dalam partitur. 

Maka ketika ia berbicara tentang film, ia tidak berbicara dari ruang hampa."Karena aku jatuh cinta dengan dunia pertunjukan, bagiku semua media seni pertunjukan punya porsinya masing-masing dalam bertutur. Dalam teater, aku bisa mengeksplorasi tentang makna kehidupan secara luas dan bahkan hampir menyeluruh. Dalam musik, aku bisa menuturkan sedikit cerita yang dibalut dalam keindahan notasi."

Pernyataan itu menarik, dan sedikit paradoksal. Sebab ia kemudian menambahkan sesuatu yang menggeser posisi film ke tempat yang istimewa sekaligus berbeda:"Dan film, walaupun dalam bentuk yang lain, bagiku film adalah satu media yang ajaib. “

Di sinilah titik menariknya. Tidak ada penonton yang hadir bersamaan dengan peristiwa, tidak ada aktor yang bisa merasakan napas penonton di baris depan. Namun justru karena itulah film memiliki kekuatan lain merangkai ulang waktu, menangkap detail-detail kecil yang mustahil tertangkap dari kursi penonton di teater, membangun dunia yang terasa dekat sekaligus meluaskan batas imajinasi.

“ Film memberiku ruang untuk bercerita dengan berbagai lapisan — visual, suara, emosi, dan waktu — yang semuanya bisa disusun ulang sesuai sudut pandang yang ingin kusampaikan. Di film, aku merasa bisa menghadirkan pengalaman yang bukan hanya ditonton, tapi juga dirasakan dan diingat."

Setelah kalimat itu, saya mengajukan pertanyaan pertama: Film itu sebenarnya menampilkan kenyataan, atau malah menciptakan kenyataan versinya sendiri? Pertanyaan yang telah menghantui para teoretikus film sejak André Bazin dan Siegfried Kracauer berdebat di pertengahan abad ke-20 tentang apakah film adalah cermin realitas atau pigura imajinasi.

Dalam konteks sinema horor psikologi, pertanyaan itu menjadi sangat mengganggu dan tidak mudah dijawab dengan satu kata. Ambil Hereditary (2018) karya Ari Aster. 

Film itu tidak hanya menampilkan sebuah keluarga yang berduka, membangun kenyataan bahwa trauma yang tidak diproses bisa menggerogoti dari dalam. Kenyataan apa yang ditampilkan Aster? Bukan kenyataan faktual. 

Tapi kenyataan emosional yang jauh lebih terasa nyata bagi siapa pun yang pernah kehilangan seseorang dan tidak tahu harus menaruh dukanya ke mana.

Atau lihat The Babadook (2014) karya Jennifer Kent. Monster dalam film itu tidak pernah sepenuhnya dijelaskan sebagai makhluk nyata atau ilusi, adalah representasi depresi dan duka yang tak terlabeli. 

Film ini tidak menampilkan kenyataan yang sudah ada, ia menciptakan kenyataan bagi setiap penonton yang pernah merasa ada sesuatu yang gelap tinggal bersama mereka di dalam rumah yang sama, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain.

Begitulah film horor psikologi bekerja: mengambil sesuatu yang abstrak dan tidak kasat mata rasa takut, rasa bersalah, trauma, paranoia, lalu memberikannya tubuh, wajah, dan suara. 

Film tidak menampilkan kenyataan yang ada di luar sana. Film mengonstruksi kenyataan yang selama ini hidup diam-diam di dalam diri penonton.

Menunjukkan Dunia, atau Membentuk Cara Kita Melihatnya

Pertanyaan kedua saya, Film itu lebih menunjukkan dunia apa adanya, atau justru membentuk cara kita melihat dunia? 

Jawabannya sudah terkandung dalam cara kita merespons praktik budaya dalam bingkai film. Seperti cpntoh, setelah menonton Black Swan (2010) karya Darren Aronofsky, cara banyak orang memandang perfeksionisme berubah. Film itu tidak memperlihatkan seorang penari balet yang ambisius lalu membiarkan penonton pulang dengan kesan netral.

Seperti yang dimaksud Laura Marks dengan konsep haptic visuality dalam sinema, bahwa gagasan dalam film memungkinkan untuk dirasakan oleh seluruh tubuh dan diinternalisasi sebagai cara pandang. 

Menanamkan ketakutan baru bahwa mengejar kesempurnaan bisa membuat seseorang kehilangan batas antara dirinya sendiri dan karakter yang ia ciptakan. Setelah film itu, panggung pertunjukan tidak lagi terasa seperti tempat yang semata-mata glamor.

Atau bayangkan Get Out (2017) karya Jordan Peele. Film itu memaksa jutaan penonton memeriksa ulang asumsi-asumsi mereka tentang rasisme yang tak kasat mata, tentang keramahan yang menyimpan agenda, tentang senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata. 

Setelah Get Out, percakapan tentang rasisme sistemik di Amerika bergeser ke arah yang berbeda. Film itu tidak cukup dikatakan menunjukkan dunia, mengubah cara orang membaca dunia.

Seperti yang dimaksud Laura Marks dengan konsep haptic visuality dalam sinema bahwa gagasan dalam film memungkinkan untuk dirasakan oleh seluruh tubuh dan diinternalisasi sebagai cara pandang. Film yang solid tidak selesai saat kredit bergulir. Terus bekerja di dalam kepala, dalam cara kita membaca situasi, manusia, dan perasaan.

Film yang bagus tidak selesai saat kredit bergulir. Terus bekerja di dalam kepala, dalam cara kita membaca situasi, manusia, dan perasaan.

Film dan Konten: Jarak yang Perlu Dijaga

Di tengah percakapan itu, saya mencoba menyentuh keresahan yang mungkin sedang dirasakan banyak sineas: di era media sosial yang begitu masif soal tayangan audiovisual, apa yang membedakan film dan konten? Perlukah ada jarak yang jelas dalam cara kita memandang karya film?

"Yang membedakan film dan konten itu jelas, dan justru penting untuk dibedakan. Film lahir dari proses berpikir yang utuh, ada kesadaran dalam setiap pilihan visual, suara, ritme, sampai makna yang ingin disampaikan. Semua elemen dipikirkan matang-matang. Sementara konten, seringkali dibuat untuk durasi, untuk konsumsi sesaat, dan tidak selalu punya kedalaman atau pertanggungjawaban yang sama," jawabnya.

Di era ketika algoritma menentukan apa yang dilihat orang, dan batas antara kreator konten dan sineas menjadi semakin kabur bahkan di mata penonton sendiri, Innos melanjutkan:

"Di era sekarang, batas itu memang terlihat kabur, tapi bukan berarti harus dihilangkan. Justru kalau semua disamakan, kita kehilangan cara untuk menghargai proses dan kedalaman dalam sebuah karya film."

Film tidak terikat pada gedung bioskop atau layar tertentu. Yang penting bukan di mana ia ditonton, melainkan bagaimana ia ditonton dengan kesediaan untuk diam sejenak, untuk membiarkan sebuah karya bekerja pada diri kita, untuk tidak melarikan diri ke layar lain ketika film mulai tidak nyaman. 

Resonansi pernyataan itu saya temukan ketika teringat Midsommar (2019) karya Ari Aster dengan klip-klip pendek bertema ritual atau kultus yang berseliweran di media sosial sebagai konten disturbing atau creepy. 

Keduanya menggunakan estetika yang mirip, terang benderang, ritual komunal, kekerasan yang dibalut keindahan. Tapi Midsommar membangun terornya secara perlahan, menggunakan kesedihan Dani sebagai akar emosional seluruh film, sehingga kegilaan di akhir terasa seperti konsekuensi logis dari jiwa yang hancur. Sementara konten serupa di media sosial hanya memanen reaksi tanpa akar, tanpa pertanggungjawaban naratif.

Perbedaannya bukan soal platform, bukan soal durasi. Melainkan soal kesadaran. Apakah setiap pilihan dalam karya itu lahir dari sebuah pertanyaan yang ingin dijawab pembuatnya? Ataukah dari pertanyaan: konten macam apa yang sedang tren minggu ini?

Di penghujung percakapan, Innos mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana namun penting juga untuk dicatat. "Kalau soal media penayangan, film bisa disaksikan di mana saja, asal nyaman untuk penontonnya."

Sebab horor psikologi yang mengena memang dirancang untuk membuat kita tidak nyaman. Film-film seperti itu tidak bisa dikonsumsi sambil lalu. Mereka membutuhkan penonton yang hadir sepenuhnya.

Dan ketika lensa itu berada di tangan seorang sineas yang berpikir dengan sungguh-sungguh, film memungkinkan menjadi pengalaman menonton yang luar biasa. 

Menjadi cara lain untuk memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia yang kita huni bersama. 

Bahkan jika dunia itu penuh dengan hal-hal yang menakutkan. 

Terutama jika dunia itu penuh dengan hal-hal yang menakutkan. 

Seperti cerita seorang anak dalam film Mulih, disutradari Cornel Innos yang digarap oleh GsT Production, yang saya saksikan di malam itu. Serasa mengajak melihat dan merasakan kembali ketakutan seorang anak kecil yang sedari awal mendengar dongeng - dongeng horror yang dituturkan oleh ibunya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar