Esai

Dramatic Reading Tigakoma : Asal Usul Joko Dolog

✍ Dian Puspita Sari - 📅 25 Sep 2025

Dramatic Reading Tigakoma : Asal Usul Joko Dolog
Dian Puspita Sari

Arca Joko Dolog, begitu ia dikenal, memancarkan aura ketenangan yang arkais. Udara di sekelilingnya kerap kali pekat oleh aroma dupa yang dibakar oleh para peziarah, sebuah ritual yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu yang tak terjamah.

Bersemayam sebuah kisah yang penuh gejolak, drama, dan gairah. Cerita yang hidup bukan dalam prasasti, melainkan dalam tradisi lisan. Berkisah tentang cinta, ambisi yang menghancurkan, dan sebuah kutukan mengerikan yang mengubah seorang pangeran menjadi batu.

Dalam narasi ini, Joko Dolog bukanlah simbol kebijaksanaan, melainkan monumen moral. Di sinilah paradoks besar itu bermula. Siapakah sebenarnya sosok yang dipahat dalam batu ini? Apakah ia Raja Kertanagara, penguasa terakhir dan terbesar Kerajaan Singhasari, seorang negarawan visioner yang diabadikan sebagai perwujudan Buddha Mahaksobhya pada tahun 1289 Masehi?



Di sinilah paradoks besar itu bermula. Siapakah sebenarnya sosok yang dipahat dalam batu ini? Apakah ia Raja Kertanagara, penguasa terakhir dan terbesar Kerajaan Singhasari, seorang negarawan visioner yang diabadikan sebagai perwujudan Buddha Mahaksobhya pada tahun 1289 Masehi? sebuah pertarungan identitas yang fundamental: sejarah melawan folklor, fakta arkeologis melawan ingatan budaya.

Untuk menavigasi labirin identitas ini, kita memerlukan pemandu kontemporer. Pemandu itu hadir dalam wujud buku kumpulan cerpen Cerita dari Brang Wetan karya Dadang Ari Murtono. Sebuah reka ulang imajinatif, sebuah “ludruk sebelum ludruk pertama,” yang lahir di ruang antara naskah dan panggung. Yang tidak membatu seperti arca, melainkan terus berevolusi, beradaptasi, dan menemukan relevansi baru di setiap zaman. Babak terbaru dalam riwayat panjang Joko Dolog, sebuah riwayat yang membuktikan bahwa terkadang, cerita yang paling diingat bukanlah cerita yang paling benar.

Artefak yang tersimpan di museum memiliki cerita yang terkurasi dan terkontrol oleh para ahli. Namun, sebuah artefak di taman kota terbuka bagi interpretasi publik, menjadi panggung di mana cerita rakyat dapat dipentaskan setiap hari. artefak yang tersimpan di museum memiliki cerita yang terkurasi dan terkontrol oleh para ahli. Namun, sebuah artefak di taman kota terbuka bagi interpretasi publik, menjadi panggung di mana cerita rakyat dapat dipentaskan setiap hari.

Kerangka untuk Memahami Mitos

Untuk memahami bagaimana sebuah arca raja bisa menjelma menjadi pangeran terkutuk, kita perlu memahami arsitektur cerita itu sendiri. Untuk memahami bagaimana sebuah arca raja bisa menjelma menjadi pangeran terkutuk, kita perlu memahami arsitektur cerita itu sendiri. Catatan sejarah, seperti Prasasti Wurare yang terukir di dasar arca, adalah sesuatu yang paling jernih dan akurat. Folklor, di sisi lain, adalah gema yang telah memantul dari ribuan permukaan dari generasi ke generasi, dari perubahan politik hingga pergeseran budaya.

Menjadi terdistorsi, diperkuat di beberapa bagian, dilemahkan di bagian lain, namun tetap menyimpan inti dari suara aslinya. Adaptasi modern seperti Cerita dari Brang Wetan adalah ibarat seorang insinyur audio yang me-remix gema kuno tersebut dengan instrumen-instrumen masa kini, menciptakan sebuah komposisi yang sama sekali baru namun tetap beresonansi dengan frekuensi aslinya.

Untuk memahami mengapa legenda ini begitu kuat hingga mampu menimpa fakta sejarah, kita harus menyelam ke dalam jantung emosionalnya. Sebuah drama manusiawi yang dibangun di atas tiga pilar karakter yang mewakili arketipe abadi. Dengan mensintesis berbagai versi cerita yang ada , kita dapat membedah dinamika yang membuat kisah ini begitu hidup.

Teori Adaptasi Sastra

Adaptasi bukanlah pemindahan cerita dari satu medium ke medium lain. Menurut pemikir seperti Linda Hutcheon, adaptasi adalah sebuah proses kreatif yang melibatkan reinterpretasi dan rekreasi. Memahami karya Dadang Ari Murtono yang tidak sedang “menerjemahkan” legenda Joko Dolog, melainkan secara aktif menciptakannya kembali. Mengubah mediumnya dari bahasa lisan Jawa Arek yang lazim dalam ludruk menjadi bahasa Indonesia tulis. Lebih dari itu, ia dengan sengaja menyuntikkan anakronisme. Dalam melakukan ini, Murtono menegaskan haknya sebagai seorang seniman, “sebagaimana yang dimiliki seorang aktor untuk menafsirkan apa-apa yang dikatakan sutradara”.



Anakronisme bukanlah sekadar gimik stilistik, melainkan sebuah pernyataan teoretis. Dengan menempatkan objek modern dalam sebuah kisah kuno, sang penulis secara efektif meruntuhkan jarak antara masa lalu dan masa kini. Tindakan ini memaksa pembaca untuk melihat para pangeran dan putri bukan sebagai figur sejarah yang kaku tetapi sebagai manusia yang bergulat dengan drama universal seperti cinta, cemburu, ambisi, integritas yang sama relevannya di eranya. Anakronisme menjadi alat untuk memperkuat tema, teknik adaptasi sadar yang membuat gagasan masa lalu bergaung nyaring di ruang modern.

Folkloristik

Legenda Joko Dolog adalah contoh buku teks dari apa yang oleh para ahli folklor, seperti James Danandjaja, definisikan sebagai folklor. Pertama, ia diwariskan secara lisan, kemungkinan besar melalui pertunjukan seni rakyat seperti ludruk. Kedua, ia bersifat anonim; tidak ada satu orang pun yang diakui sebagai pencipta aslinya. Ketiga, ia hadir dalam berbagai versi. Beberapa sumber menyebut judulnya  

Joko Dolog, sementara yang lain mengenalnya sebagai Jaka Jumput, dengan variasi detail cerita di antara keduanya. Keempat, dan yang terpenting, ia memiliki fungsi sosial yang jelas. Legenda ini berfungsi sebagai alat pendidikan (didaktik), yang menanamkan nilai-nilai moral tentang pentingnya kejujuran, kerja keras, dan bahaya dari kesombongan. Ia adalah cerminan dari norma dan kearifan kolektif masyarakat yang melahirkannya.

Daya tarik dari legenda Joko Dolog juga dapat dijelaskan melalui lensa monomit atau “Perjalanan Sang Pahlawan” yang dirumuskan oleh Joseph Campbell. Berpendapat bahwa mitos-mitos di seluruh dunia, dari zaman kuno hingga modern, hampir mengikuti pola naratif dasar yang memiliki kesamaan. Jika kita melihat lebih dekat, pahlawan sejati dalam legenda ini bukanlah Jaka Taruna yang namanya menjadi judul, melainkan Joko Jumput, pemuda desa yang bersahaja. Perjalanannya secara sempurna memetakan arketipe Campbell.

“Panggilan untuk Bertualang” datang ketika ia mendengar teriakan minta tolong Jaka Taruna di hutan. “Bantuan Gaib” ia peroleh dari ibunya, dalam bentuk jamu penguat tubuh dan senjata pusaka pecut gembala geni. “Jalan Penuh Cobaan” adalah pertarungannya melawan Pangeran Situbondo yang sakti.

Dan “Anugerah Terbesar” adalah kemenangannya yang tidak hanya memberinya hak untuk menikahi sang putri, tetapi juga memulihkan keadilan dan kehormatan. Struktur universal inilah yang membuat kisah Joko Jumput terasa begitu memuaskan dan beresonansi secara emosional, melintasi batas-batas waktu dan budaya.

Lensa Dramaturgi

Kisah Joko Dolog, terutama dalam adaptasi Dadang Ari Murtono memiliki potensi besar untuk dihidupkan kembali melalui pertunjukan, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana seperti pembacaan dramatis (dramatic reading). Untuk membedah proses transformasi dari teks tertulis menjadi sebuah pertunjukan yang hidup, kita memerlukan satu pilar teoretis lagi: Teori Dramaturgi.

Dicetuskan oleh sosiolog Erving Goffman, teori dramaturgi memandang interaksi sosial sehari-hari sebagai sebuah pertunjukan teater. Manusia, dalam teorinya, adalah aktor di panggung kehidupan yang terus-menerus mengelola citra diri mereka di hadapan “penonton”.

Kerangka ini sangat relevan untuk menganalisis bagaimana sebuah naskah sastra diinterpretasikan dan ditampilkan. Goffman membagi panggung ini menjadi dua wilayah utama:

Panggung Depan (Front Stage): Ruang di mana pertunjukan berlangsung. Dalam konteks pembacaan dramatis cerita Joko Dolog, ini adalah momen ketika seorang pembaca (aktor) berdiri di hadapan penonton dan membawakan teks. Di sini, sang aktor secara sadar melakukan “manajemen kesan” (impression management). Mereka tidak hanya membaca kata-kata, tetapi juga menggunakan intonasi, volume, tempo, dan ekspresi wajah untuk membentuk persepsi penonton terhadap karakter dan suasana cerita. Semua pilihan ini adalah bagian dari pertunjukan di panggung depan.  

Panggung Belakang (Back Stage): Ruang persiapan yang tersembunyi dari mata penonton. Di sinilah pekerjaan sesungguhnya terjadi. Sang aktor atau sutradara menganalisis naskah, menandai dialog, berlatih berbagai jenis suara, dan membuat keputusan interpretatif. Di panggung belakang, mereka bisa “keluar dari karakter” untuk merencanakan pertunjukan. Misalnya, saat mempersiapkan teks, di panggung belakang sang aktor akan memutuskan bagaimana cara menyajikan elemen-elemen anakronistis dan sureal—apakah akan dibawakan dengan nada komedi, ironis, atau membingungkan, pilihan yang akan sangat memengaruhi pengalaman penonton di panggung depan.

Dengan menggunakan lensa dramaturgi, kita dapat melihat bahwa sebuah pembacaan dramatis bukanlah aktivitas membaca, melainkan sebuah proses kreatif yang kompleks. Sang pembaca menjadi seorang penafsir dan kreator, yang tindakannya di “panggung depan” merupakan hasil dari proses analisis dan persiapan yang cermat di “panggung belakang”. Teori ini memungkinkan kita untuk menghargai pertunjukan bukan hanya sebagai penyampaian teks, tetapi sebagai sebuah karya seni baru yang lahir dari interaksi antara naskah, penampil, dan penonton.

Untuk memahami mengapa legenda itu begitu kuat hingga mampu menimpa fakta sejarah, kita harus menyelam ke dalam jantung emosionalnya. Dari drama manusiawi yang dibangun di atas pilar karakter yang mewakili arketipe-arketipe. Dengan mensintesis berbagai versi cerita yang ada , kita dapat membedah dinamika yang membuat kisah itu begitu hidup. Seperti yang dipentaskan oleh Kelompok Kajian Teater Tigakoma dengan Lakon Asal Usul Joko Dolog di Festival Ekspresi Muria Raya, Kampung Budaya Cabean, Desa Papringan, Kaliwungu Kudus 29 Agustus 2025.


Daftar Pustaka :

  • Roesmawati, D. (2016). Joko Dolog. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Purwono, N. (2022, 29 September). Joko Dolog Bukan Legenda, Tapi Sejarah.
  • Baihaqi, A. (2023, 4 Mei). Arca Joko Dolog di Surabaya, Antara Sejarah dan Legenda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar