Folks

Doa Perawan Tua Gelombang Terakhir oleh Teater Minatani

✍ Djauharudin - 📅 03 Dec 2023

Doa Perawan Tua Gelombang Terakhir oleh Teater Minatani
Djauharudin

Di dunia seni peran, istilah monolog tidaklah asing. Seni pertunjukan monolog memiliki daya tarik yang cukup besar bagi sebagian masyarakat, terutama ketika pemeran mampu menyampaikan cerita dengan penuh indah, yang pada gilirannya dapat memicu reaksi pada penonton. Bagi sebagian orang, terutama mereka yang belum pernah terlibat dalam dunia seni peran, mungkin masih belum sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud dengan monolog. Oleh karena itu, perlu dipahami apa sebenarnya monolog itu.

Secara umum, monolog merujuk pada sebuah percakapan yang berlangsung dalam satu arah, di mana tidak terjadi interaksi atau tanggapan balik antara pembicara dan pendengar. Sebagai ilustrasi, seorang kepala desa yang memberikan pidato di hadapan warganya atau seorang pemuka agama yang menyampaikan ajaran-ajarannya melalui mimbar keagamaan merupakan contoh situasi monolog.

Dalam perkembanganya, dalam medium teater, aksi itu diperkuat dengan unsur – unsur pendukung lainya seperti capaian artistik dan musik bahkan rekasaya teknologi lainya. Untuk membawa penonton pada satu peristiwa dramatik dalam pertunjukan. Seperti halnya pertunjukan monolog yang dilakoni oleh Teater Minatani dalam Judul ” Doa Perawan Tua – Gelombang Terakhir ” disutradarai oleh Beni Dewa dengan Pimpro Arif Khilwa pada Sabtu 02 Desember 2023 di Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR), Kec. Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.


Dalam karyanya penonton diajak melihat persoalan yang diungkapkan oleh Siwi sebagai Batari. Masuk dalam suasana pelabuhan dengan pandangan Batari menghadap luasnya lautan melalui iringan musik yang dibawakan Nur Syam, Aristya dan kawan – kawan. Menceritakan tentang bagaimana kerinduan seorang perempuan menunggu kekasihnya hingga masuk pada usia 30 taun. Banyak hal yang terjadi dalam proses itu secara sosio kultural yang berdampak pada psikologis Batari. Hal itu diungkapan oleh Beni Dewa selaku sutradara.

” Pada dasarnya ini adalah naskah sekuel, dimana yang dulunya menceritakan yang versi muda, dan sekarang versi tuanya, dalam cerita kali ini, keresahan kami berawal dari bagaimana cara pandang masyarakat terhadap seorang perawan tua dan bagaimana ia menghadapinya “. tuturnya.


Dalam pandangan beberapa masyarakat, perempuan yang belum menikah pada usia tertentu sering kali mendapat stigmatisasi dari masyarakat, baik itu karena belum menemukan pasangan yang cocok atau memilih untuk belum menikah. Masyarakat cenderung memberikan label seperti perawan tua, tidak laku, atau terlalu selektif.

Fenomena ini dapat diatributkan pada nilai-nilai budaya Timur yang dominan di Indonesia, dalam simbol – simbol artistik yang dihadirkan oleh sang sutradara hal itu mungkin sering terjadi di masyarakat pesisir, di mana status pernikahan dianggap sebagai aspek penting dalam hidup seorang perempuan. Pernikahan dipandang sebagai langkah perkembangan yang signifikan ketika seseorang memasuki fase kedewasaan.

Pernikahan dianggap sebagai ikatan antara dua individu yang mungkin memiliki perbedaan signifikan dalam berbagai aspek, termasuk fisik, latar belakang keluarga, lingkungan sosial, pola pikir, dan pendidikan. Seperti yang diungkap oleh Batari mengenai hal latar belakangnya dan anggapan – anggapan lain tentang kesuciannya. Kehidupan lajang bagi pria dan perempuan seringkali menunjukkan perbedaan dalam cara menjalani kehidupan. Perempuan acap kali merasa dirugakan dalam pandangan ini.

Mungkin dari pandangan – pandangan itu, Batari memberikan ruang tanya dalam menempatkan kecintaan dalam komitmen pernikahan. Gejolak emosi atas fenomena itu mungkin coba dijelajahi dan diungkapkan oleh Teater Minatani melalui kemurkaan dalam wujud barongan, dalam gelombang laut yang menenggelamkan semuanya. Menenggelamkan kapal – kapal yang sedang berlayar atau yang sedang menuju ke pelabuhan. Kutukan akibat perbuatan orang lain.

Istilah “kutukan” dapat merujuk pada keinginan yang merugikan atau dampak negatif yang diakibatkan oleh kekuatan supernatural seperti mantra, doa, kutukan, rasa benci, sihir, santet, kekuatan alam, atau roh. Dalam berbagai sistem kepercayaan, kutukan itu sendiri atau ritual yang terkait dianggap memiliki kekuatan yang menghasilkan konsekuensi tertentu. Proses untuk membalik atau menghilangkan kutukan sering disebut sebagai penghapusan atau penghancuran, dan seringkali diyakini memerlukan pelaksanaan ritual yang kompleks atau doa.

Mungkin, pemberontakan jiwa atas hal – itulah yang ingin diekspresikan dan dikomunikasikan secara horisontal vertikal kepada penggarap dalam upacara katarsis di medium teater.


” Gelombang pasang memperdaya hidup sepasang burung…

Entah menjelma keabadian, entah segores takdir…

Laut mengambil kekasihku…

Laut mengembalikanku… “

– Doa Perawan Tua, Gelombang Terakhir, Siwi Agustin



Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar