Teater Songo Koma Songo (SKS) merupakan kelompok teater berbasis desa yang tumbuh di Desa Megawon. Keberadaannya dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika sosial dan kultural pemuda desa dalam membangun ruang ekspresi bersama. Artikel ini disusun melalui pembacaan atas perjalanan SKS sejak masa pembentukan, periode vakum hingga kebangkitanya kembali pada awal tahun 2025, serta posisinya dalam ekosistem seni yang lebih luas.
SKS terbentuk pada tahun 2013/2014 atas kebutuhan lomba porseni dalam ruang organisasi IPNU-IPPNU. Pada fase awal, kelompok ini terdiri dari sekitar lima hingga enam anggota yang sebagian besar masih berstatus pelajar. Aktivitas pementasan berlangsung dengan ritme yang jarang, sekitar dua tahun sekali, sebagai bagian dari proses awal pembentukan identitas artistik dan organisasi. Pada akhir taahun 2019 Daffa Yudhistira yang pada saat itu sebagai anggota SKS menginisiasi untuk dialihkan di bawah naungan pemerintah desa guna menjadi wadah dan aspek yang lebih jelas. Pada tahun 2020 SKS resmi di bawah naungan desa Megawon.
Seiring waktu, SKS mengalami masa vakum selama kurang lebih 3 tahun. Masa ini tidak semata dapat dipahami sebagai hilangnya aktivitas, melainkan sebagai jeda kolektif yang lahir dari proses regenerasi anggota dan perubahan fase kehidupan para pelakunya. Gagasan tentang kelompok tetap bertahan, meskipun praktik artistik tidak lagi berjalan secara aktif.
Kebangkitan SKS terjadi di tengah situasi pandemi. Pada fase ini, Daffa Yudhistira mulai menggerakkan kembali aktivitas teater. Perubahan penting terjadi pada aspek kelembagaan, ketika SKS beralih dari naungan organisasi kepemudaan menuju pemerintah Desa Megawon. Transformasi ini menghadirkan legitimasi administratif melalui Surat Keterangan resmi serta akses terhadap fasilitas desa, termasuk pemanfaatan aula bekas gudang balai desa sebagai ruang latihan. Namun, dukungan pendanaan belum berjalan stabil, sehingga keberlangsungan kegiatan bertumpu pada swadaya anggota dan dukungan eksternal yang bersifat tidak tetap. Kondisi ini membentuk pola produksi yang mandiri sekaligus adaptif terhadap keterbatasan.
SKS memiliki karakter keanggotaan yang terbuka. Anggota kelompok tidak hanya berasal dari Desa Megawon, tetapi juga dari luar wilayah desa. Komposisi ini menjadikan SKS sebagai ruang pertemuan lintas latar belakang dengan kesamaan minat pada teater. Proses kerja berlangsung secara cair, di mana pembelajaran muncul dari interaksi antaranggota tanpa struktur yang terlalu hierarkis.
Nama “Songo Koma Songo” (9,9) digunakan sebagai penanda identitas kelompok. Angka ini dimaknai sebagai representasi kondisi yang tidak pernah mencapai titik akhir. Dalam praktiknya, hal tersebut membentuk etos kerja yang menempatkan proses sebagai orientasi utama. SKS bergerak dalam logika keberlanjutan yang senantiasa terbuka terhadap perubahan.
Salah satu produksi penting SKS adalah pementasan “RT Nol RW Nol” karya Iwan Simatupang dan distutradarai oleh Danang A. A. yang dipentaskan pada 14 Februari 2026. Proses produksi berlangsung selama kurang lebih enam bulan dengan latihan yang dilakukan pada malam hari, menyesuaikan ritme kerja anggota pada siang hari. Pola ini memperlihatkan bagaimana praktik teater komunitas beroperasi dalam persinggungan antara kerja seni dan realitas ekonomi sehari-hari.
Proses latihan mencakup pembacaan naskah, pendalaman karakter, serta penguatan aspek vokal dan tubuh. Pemilihan naskah tersebut membuka ruang refleksi mengenai identitas sosial dan posisi manusia dalam struktur masyarakat. Dalam konteks pementasan di desa, karya ini hadir sebagai medium pembacaan ulang atas pengalaman sosial yang dekat dengan keseharian yang absurd.
Ekosistem Seni
Selain produksi internal, SKS terhubung dengan ekosistem seni yang lebih luas melalui keterlibatannya dalam program Serah #3 yang akan dipentaskan pada Senin, 30 Maret 2026 jam 20.00 WIB di Auditorium UMK, yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Kudus (DKK). Program ini menjadi ruang temu lintas komunitas dan disiplin seni, meliputi teater, tari, hingga musikalisasi puisi. Serah berfungsi sebagai ruang pementasan sekaligus arena diskusi dan pertukaran gagasan antar pelaku seni.
Keterlibatan SKS dalam ruang ini memperluas jejaring serta cara pandang terhadap praktik teater di tingkat desa. Interaksi dengan komunitas lain menghadirkan proses pembelajaran yang berlangsung di luar ruang latihan, melalui pertemuan yang lebih terbuka dan horizontal.
Di sisi lain, SKS masih menghadapi keterbatasan pada aspek pendanaan dan dukungan kelembagaan. Meskipun berada di bawah naungan pemerintah desa, akses bantuan belum berjalan secara konsisten. Kondisi ini membuat keberlanjutan kelompok tetap bergantung pada iuran anggota dan dukungan eksternal yang tidak stabil. Situasi tersebut sekaligus membuka ruang otonomi dalam menentukan arah artistik dan bentuk produksi karya.
Secara keseluruhan, SKS memperlihatkan bahwa komunitas seni di tingkat desa beroperasi sebagai ruang produksi sekaligus ruang pembelajaran sosial. Proses kerja di dalamnya bergerak seiring dengan pembentukan disiplin kolektif, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan.
Perjalanan Teater Songo Koma Songo menunjukkan bahwa perkembangan komunitas seni desa berlangsung melalui kombinasi dinamika organisasi, jeda aktivitas, serta regenerasi anggota. Keterbukaan keanggotaan, kemandirian produksi, dan keterhubungan dengan ekosistem seni yang lebih luas menempatkan SKS sebagai praktik kesenian yang adaptif terhadap konteks sosialnya. Dalam konteks ini, desa dapat dipahami sebagai ruang produksi kebudayaan yang terus hidup melalui kerja kolektif.
Ruang ini terus memproduksi kebudayaan melalui peristiwa-peristiwa kecil yang berulang. Dalam setiap latihan malam, dalam setiap diskusi yang belum sepenuhnya selesai, dan dalam setiap pementasan yang lahir dari keterbatasan, seni hadir sebagai sesuatu yang terus bergerak bukan sebagai bentuk yang mapan, melainkan sebagai proses yang senantiasa dalam keadaan menjadi, seperti angka 9,9 yang tidak pernah mencapai 10.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar