Dag Dig Dug, naskah drama karya Putu Wijaya yang ditulis pada tahun 1976 di Pentaskan oleh Teater Satoesh disutradarai oleh Devi Misbahus Sholihah pada Rabu, 01 Oktober 2025 jam 19.00 WIB di Auditorium UMK.
Di buka oleh pasangan tua yang didatangi tamu yang mengaku rekan almarhum, membawa sejumlah uang duka yang jumlahnya tidak sesuai dengan kuitansi. Dihadapkan pada dilema moral, pasangan itu justru mengembalikan uang tersebut dengan menambahkan tabungan mereka sendiri—dana yang susah payah mereka kumpulkan untuk biaya pemakaman mereka kelak.
Genre drama yang bertitik tolak dari kenyataan dan menyajikan peristiwa yang merupakan representasi dari kehidupan sehari-hari. Pemilihan latar yang biasa rumah pensiunan, dialog tentang uang dan kematian yang merupakan pilihan represntasi penggarap.
Dalam disiplin rekayasa sosial, serangan yang paling efektif adalah yang datang dari sumber yang tampak normal, tepercaya, dan tidak berbahaya. Latar realisme dalam Dag Dig Dug berfungsi persis seperti email phishing yang dirancang cermat.
Barangkali dari tampilannya yang terlihat sah dan familier bagi awam, menurunkan pertahanan psikologis penonton menurun. Memungkinkan “muatan” kegelisahan eksistensial, absurditas moral, dan keraguan untuk menembus dan menginfeksi pikiran penonton tanpa perlawanan awal.
Dengan demikian, protagonis sesungguhnya dalam drama yang disampaikan bukanlah pasangan suami istri tersebut, melainkan spektrum emosi yang mereka wakili. Tema-tema seperti kesepian, kebosanan, ketakutan, kecurigaan, keraguan, dan kematian dalam lingkup dunai keluarga dan masyarakatnya menjadi karakter tak kasat mata yang mendominasi panggung.
Barangkali Putu Wijaya tidak membawa teror dari luar, ia hanya mengetuk pintu dengan sangat pelan, lalu membiarkan teror yang sudah ada di dalam diri kita untuk mengambil alih. Dalam kritik teater kita juga harus memahami cetak biru sang arsitek, I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Mengodifikasi filosofi berkeseniannya ke dalam dua konsep utama yang berfungsi sebagai sebuah doktrin operasional. Keduanya bukanlah panduan artistik, melainkan sebuah metodologi untuk merekayasa kesadaran sosial.
Keterbatasan sumber daya pasangan pensiunan, latar panggung yang sempit, dan kondisi usia senja mereka bukanlah kelemahan naratif. Sebaliknya, semua itu adalah kondisi yang sengaja “diterima” dan “dimanfaatkan” untuk memaksimalkan tekanan psikologis. Justru karena mereka tidak punya apa-apa, pengorbanan kecil mereka menjadi begitu monumental. Justru karena hidup mereka begitu sunyi, gangguan kecil dari luar terasa seperti gempa bumi. Keterbatasan menjadi alat untuk mengamplifikasi teror.
Dag Dig Dug ditafsirkan dengan studi kasus klinis tentang kecemasan. Menggunakan terminologi psikoanalisis, sehingga dapat mengidentifikasi dua jenis kecemasan yang beroperasi secara simultan. Pertama adalah Kecemasan Realistis, yaitu ketakutan yang bersumber dari ancaman nyata di dunia luar seperti kemiskinan, ketidakberdayaan di usia tua, dan kematian yang tak terhindarkan. Kedua, dan yang lebih meresap, adalah kegelisahan yang sumbernya tidak diketahui, yang bermanifestasi sebagai paranoia, kecurigaan terhadap niat orang lain, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan gejolak batin.
Pada level tertentu, meditasi tentang kecemasan yang tidak lahir dari trauma masa lalu atau ancaman masa depan, melainkan dari kesadaran akan kondisi fundamental manusia, kebebasan untuk memilih, kekosongan makna, dan keniscayaan kematian. Para tokoh dipaksa menghadapi misteri eksistensi mereka sendiri.
Mereka terus-menerus merencanakan kematian, seolah-olah itu adalah satu-satunya proyek hidup yang tersisa, namun ironisnya, justru kehidupan (dalam bentuk dilema moral) yang terus menginterupsi rencana kematian mereka.
Putu Wijaya, yang juga seorang jurnalis kawakan, sering kali menyisipkan kritik sosial dalam karyanya. Akan tetapi, kritiknya di sini tidak berbentuk protes politik yang gamblang, melainkan observasi tentang pembusukan nilai-nilai di tingkat mikro dalam unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.
Isu kemiskinan struktural di kalangan lansia menjadi latar belakang yang mencekik. Pasangan ini adalah produk dari sistem yang gagal memberikan jaring pengaman sosial yang layak, memaksa mereka hidup dalam kecemasan finansial yang konstan.
Seperti diungkapkan penggarap tentang bagaimana drama “Dag Dig Dug” menggunakan latar orang tua pensiunan yang terisolasi untuk membangun teror dalam representasinya, seberapa jauhkah kondisi keterasingan dan kesepian para lansia di tengah masyarakat kita.
” Menampilkan sepasang pensiunan yang terjebak dalam kesunyian, gambaran nyata dari kondisi banyak lansia di masyarakat. Setelah pensiun, mereka sering kehilangan peran sosial, merasa tidak dibutuhkan, bahkan terasing dari keluarga dan lingkungan yang berubah. Metafora tentang keterasingan usia tua yang semakin nyata di tengah arus modernitas. ” tutur Devi Misbahus Sholihah.
Dari drama yang menunjukkan bagaimana kejujuran absolut yang dilakukan oleh sepasang suami istri justru berujung pada penderitaan yang absurd. Apakah ini mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia modern, di mana nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan integritas seringkali “kalah” dan dianggap tidak praktis dalam menghadapi realitas pragmatis sehari-hari?
Menjadi pilihan etis dari penggarap tentang penderitaan yang dialami pasangan suami istri justru lahir dari pilihan mereka untuk tetap jujur. Menyindir kenyataan sosial dalam masyarakat modern, kejujuran dan integritas seringkali tidak mendapat tempat, bahkan dianggap merugikan.
” Banyak orang lebih memilih jalan pragmatis, berkompromi dengan kebohongan atau kepentingan—demi kelancaran hidup. Putu Wijaya ingin menunjukkan absurditas itu ketika nilai luhur yang mestinya dihargai malah membawa kesulitan, sementara kepalsuan justru tampak lebih aman “. ungkapnya.
Dengan menafsir gagasan naskah yang menimbulkan kritik kegagalan sistem dalam menyediakan jaring pengaman sosial yang layak bagi warganya. Novi juga menjelaksan tentang sejauh mana kegagalan ini masih relevan dan bagaimana dampaknya terhadap munculnya “kecemasan realistis” dari ketakutan akan kemiskinan, hari tua pada generasi muda.
” Sepasang lansia berdiri di panggung, tubuh renta mereka menjadi simbol rapuhnya perlindungan negara. Tidak ada jaring pengaman, tidak ada tangan yang menolong ketika usia tua tiba. Ironi yang sebenarnya tidak berhenti disana ketakutan yang merambat yang tidak hanya suara cemas orang tua menghadapi hari senja, juga keresahan generasi muda yang membayangkan masa depan tanpa jaminan, takut miskin, takut tua, takut ditinggalkan.”
Melalui absurditasnya, drama menjelma cermin kesenian, memperlihatkan bagaimana panggung kehidupan kerap gagal menyediakan rasa aman, dan bagaimana kecemasan itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Krisis kepercayaan dan kecurigaan antarindividu dalam masyarakat saat ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal (politik, ekonomi) atau justru lahir dari “teror” dan prasangka yang sudah ada di dalam diri kita sendiri juga dipertanyakan dalam panggung.
Seperti representasi atas krisis kepercayaan dan kecurigaan antarindividu yang merupakan hasil perpaduan antara faktor eksternal dan internal, yang saling memperkuat. Faktor eksternal seperti kondisi politik yang penuh polarisasi, ketidakstabilan ekonomi, ketimpangan sosial, dan penyebaran informasi yang terkadang bias atau hoaks, menciptakan atmosfer ketidakpastian dan ketidakamanan yang mudah memicu rasa curiga dan kecurigaan antarindividu.
Faktor internal seperti teror psikologis, prasangka, ketakutan, dan kecemasan yang sudah ada dalam diri kita berfungsi sebagai bahan bakar yang membuat kecurigaan. Menjadi lebih intens dan sulit diatasi. Tanpa “teror” dari dalam diri, faktor eksternal mungkin hanya menjadi latar, bukan sumber utama keretakan hubungan antarindividu.
” Putu Wijaya dengan metafora “mengetuk pintu” ingin kita menyadari bahwa masalah terbesar bukan hanya berasal dari luar, tapi juga dari bayang-bayang dalam diri sendiri yang membentuk cara kita memandang dan mempercayai orang lain. Oleh karena itu, upaya membangun kembali kepercayaan harus dimulai dari menghadapi dan meredakan teror batin tersebut. ” jelasnya.
Dalam Dag Dig Dug, tindakan heroik pasangan tua memegang teguh kejujuran dan tanggung jawab justru berakhir tragis. Fenomena ini sejalan dengan realitas Indonesia modern, di mana orang-orang yang berusaha hidup lurus dan konsisten pada moral sering dianggap aneh, naif, atau bahkan tersisih.
” Dalam masyarakat yang semakin pragmatis, sikap idealis kerap tidak dipandang sebagai teladan, melainkan beban. Putu Wijaya seakan menegaskan ironi itu: ketika kebaikan tidak lagi disambut sebagai nilai luhur, melainkan dipandang tidak relevan, maka tragedi moral pun lahir di tengah kehidupan sosial kita. ” tegasnya.
Yang diakhiri dengan memaksa kita untuk melihat dan bertanya kepada diri kita sendiri di tengah kehidupan bermasyarakat tentang pertanyaan kematian apa yang paling menakutkan?
” Bukan sekadar lenyapnya nyawa, tapi tenggelamnya nilai-nilai, lunturya kejujuran, pudarnya identitas, dan retaknya rasa saling percaya yang menyatukan kita sebagai masyarakat. Ketika kebenaran dibungkam dan kejujuran dikorbankan, mungkin kita masih bernapas, tapi sesungguhnya sedang sekarat. Maka, yang lebih mengerikan dari kematian fisik adalah saat kita tak lagi merasa DagDigDug atas kematian makna itu sendiri. ” tutupnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar