Esai

Dialog Panggung Idham Ardi, Sandilara, dan Erang

✍ Agam Abimanyu - 📅 23 Sep 2025

Dialog Panggung Idham Ardi, Sandilara, dan Erang
Agam Abimanyu

Sebelum tirai diangkat, sebelum lampu panggung menyala, sebuah keputusan fundamental telah diambil di ruang batin seorang seniman teater. Keputusan itu akan menentukan dunia seperti apa yang akan kita saksikan, dan lebih penting lagi, bagaimana kita akan menyaksikannya.

Di atas panggung, seorang seniman teater memilih sebuah realitas. Tapi, realitas versi siapa yang sebenarnya kita tonton?

Ada sebuah dinding tak kasat mata yang memisahkan kita dari panggung. Beberapa seniman membangunnya setinggi langit, yang lain menghancurkannya berkeping-keping.

Mengapa pilihan ini menentukan segalanya?


W.S. Rendra pernah membuat geger dengan teater Mini Kata. Apa yang ia coba sampaikan ketika kata-kata tak lagi cukup?

Danarto berjalan di padang gurun yang membakar, lautan yang menenggelamkan, atau ruang operasi di mana jiwa dibedah tanpa bius. Laku apa yang sedang dipertontonkannya dalam karyanya ?

Leo Katarsis bereksplorasi dengan gagasan upacara manusia dengan semesta, tanpa kata, tanpa wajah dan muka, luruh. Apa yang coba ia sampaikan dalam kisah – kisah Rananggana dalam medium Samar ?

Keluarga Segitiga Teater selalu melepas canda tawa, namun apa sebenarnya yang mereka tertawakan ?

Mophet sK, dengan kolase peragaan gaya parodi, lagu baru Ibu, demonstrasi Transhuman, apa yang dituju ?

Teater Tigakoma dengan eksplorasi panggung yang berganti – ganti, mau kemana sebenarnya ?

KSK Wadas dengan ritual dan realisme Lautan Jilbab, dimana dan apa kebermaknaannya ?

Analogi Cermin, Antara Realitas dan Representasi

Menunjukkan bahwa Ketika realitas sosial terlalu pahit untuk diterima, seniman teater dihadapkan pada dilema: menghibur atau mengganggu? Representasi kemiskinan di panggung bisa menjadi kritik tajam atau eksploitasi yang kejam. Di mana garis batasnya, dan berapa banyak seniman yang telah melanggarnya? Sebab Naskah drama sering dianggap sebagai kitab suci pertunjukan. Namun, bagi para seniman ini, naskah adalah penjara yang harus dibobol.


Sampai pada Teater tradisi yang acap kali dianggap usang oleh sebagian kalangan modernis. Namun, di tengah gempuran ide-ide Barat, justru di sanalah kunci untuk menemukan kembali teater yang otentik Indonesia. Sehingga menonton teater seringkali terasa seperti mengintip kehidupan orang lain.

Tapi bagaimana jika tujuannya justru untuk membuat kita mengintip ke dalam diri sendiri?


Dari Arifin C. Noer hingga Putu Wijaya, ada satu pertanyaan yang terus menghantui panggung Indonesia: apakah teater harus menjadi cermin atau palu? Dari tahun 1900-an, sekelompok intelektual pulang dari Eropa membawa sebuah gagasan bernama “realisme”.

Mereka tidak tahu bahwa gagasan itu akan memicu perdebatan puluhan tahun di panggung teater nusantara. Dari Abu, seorang pesuruh kantor dalam naskah Kapai-Kapai, menghabiskan hidupnya mengejar “cermin tipu daya”. Kisahnya menjadi alegori abadi tentang bagaimana seorang seniman merepresentasikan harapan dan keputusasaan.

Kisah yang dimulai dengan sebuah cermin. Cermin yang sempurna, yang merefleksikan dunia apa adanya. Lalu seorang seniman datang dan dengan sengaja meretakkannya. Inilah yang terjadi selanjutnya. Panggung teater kerap diibaratkan sebagai cermin bagi masyarakat. Analogi ini sederhana namun menyimpan kompleksitas dan kerumitan tersendiri. Karena pertanyaan mendasar bagi setiap seniman adalah: cermin seperti apa yang ingin ia hadirkan? Dari jawaban atas pertanyaan ini, lahirlah berbagai cara pandang, konvensi, dan pemberontakan dalam seni pertunjukan.

Analogi Cermin

Cermin yang merepresentasikan tradisi realisme dan dramaturgi Aristotelian. Tujuannya adalah menciptakan sebuah “ilusi realitas” (illusion of reality) yang begitu meyakinkan di atas panggung. Cermin ini dipoles hingga jernih dan utuh, memantulkan “potongan kehidupan” dengan detail yang presisi, mulai dari tata panggung yang menyerupai kenyataan hingga keaktoran yang mapan secara psikologis. Tujuan akhirnya adalah katarsis, sebuah proses di mana penonton larut sepenuhnya ke dalam emosi dan alur cerita, seolah-olah mereka lupa sedang menyaksikan sebuah drama. Dalam paradigma ini, plot atau alur menjadi elemen terpenting. Menuntut sebuah jalinan peristiwa dengan hubungan sebab-akibat yang logis, rapi, dan terkontrol, bergerak linear dari pengenalan masalah menuju klimaks dan resolusi.

Di kutub seberang, adalah Cermin Retak yang sengaja dipecahkan oleh seniman. Retakannya bukanlah sebuah cacat, melainkan sebuah strategi. Alih-alih menyembunyikan fakta bahwa ini adalah sebuah pertunjukan, retakan-retakan itu justru menyoroti konstruksi di baliknya. Tujuannya bukan lagi katarsis emosional, melainkan penciptaan jarak kritis. Penonton tidak diajak untuk larut, tetapi justru didorong untuk mundur selangkah, berpikir, menganalisis, dan pada akhirnya mengambil keputusan atau sikap atas apa yang mereka saksikan. Strukturnya bersifat episodik; sebuah pertunjukan dapat dipotong-potong menjadi bagian-bagian individual yang tetap “mampu hidup” sendiri, layaknya sebuah montase.

Dialog dengan Sejarah, Kegelisahan Identitas Panggung

Gagasan tentang “Cermin Sempurna” tidak lahir di ruang hampa. Di Indonesia, ia tiba sebagai sebuah paket impor bernama realisme pada awal abad ke-20, dibawa oleh kaum terpelajar yang baru kembali dari pendidikan Barat. Kedatangannya memicu sebuah dialog panjang, bahkan sebuah benturan dengan konvensi panggung yang telah ada, dan secara tidak langsung, memaksa para seniman untuk bertanya: seperti apa wajah teater modern Indonesia?

Realisme datang dengan seperangkat aturan yang revolusioner pada masanya. Ia menuntut naskah yang tertata rapi (well-made-play), dengan alur yang dapat dijelaskan oleh logika runtut dan motivasi psikologis karakter yang jelas. Fokusnya bergeser dari kisah-kisah agung para raja dan bangsawan, seperti dalam tradisi teater Elizabethan, ke drama kehidupan orang-orang biasa (the common man).

Realisme datang dengan seperangkat aturan yang revolusioner pada masanya. Ia menuntut naskah yang tertata rapi (well-made-play), dengan alur yang dapat dijelaskan oleh logika runtut dan motivasi psikologis karakter yang jelas. Fokusnya bergeser dari kisah-kisah agung para raja dan bangsawan, seperti dalam tradisi teater Elizabethan, ke drama kehidupan orang-orang biasa (the common man).

Konvensi yang dianggap “modern” harus berhadapan langsung dengan estetika teater rakyat Indonesia yang sudah mengakar, seperti Lenong, Ludruk, atau Ketoprak. Teater rakyat memiliki DNA yang berbeda. Ia bersifat cair, hidup dari improvisasi, dan tidak terikat pada naskah yang kaku. Interaksi dengan penonton begitu intens sehingga batas antara panggung dan penonton seringkali kabur. Tidak ada pemisahan tegas antara tragedi dan komedi; lawakan justru menjadi daya pikat utama yang bisa disajikan secara berlebihan untuk memuaskan penonton. Para pemainnya pun seringkali bukan aktor yang terdidik secara formal dalam seni peran, namun mampu bermain dengan energi yang lepas dan “tanpa beban”.

Benturan ini menciptakan sebuah dikotomi. Di satu sisi, ada teater “modern” yang identik dengan realisme Barat: berbasis naskah, logis, dan psikologis. Di sisi lain, ada teater “tradisional” yang dianggap improvisasional, komunal, dan kurang “rapi”. Para pengamat pada masa itu bahkan secara eksplisit mempertanyakan “jarak” antara realisme yang dibawa dari Barat dengan realisme kerakyatan yang muncul dalam pertunjukan Lenong.

Kondisi ini melahirkan sebuah kegelisahan identitas yang produktif. Pemberian label “modern” pada realisme secara tidak langsung memposisikan teater tradisi sebagai sesuatu yang “tertinggal”. Hal ini memaksa para seniman Indonesia untuk tidak menjadi peniru. Mereka mulai melakukan “tawar-menawar”, eksplorasi hingga mencari wajah realisme dengan konvensi yang datang.

Menjadi sebuah sikap kritis. Mengambil isu-isu dari realitas sehari-hari, tetapi menolak mentah-mentah cara pementasan realisme naif yang kaku dan berat. Blocking pemain yang tidak wajar dan akting yang berlebihan, bahkan mengadopsi logika editing film untuk menciptakan alur pementasan yang lebih dinamis dan mengejutkan. Dengan demikian, kedatangan realisme tidak hanya berfungsi sebagai transfer gaya, tetapi sebagai katalisator yang memicu dialog internal di dalam tubuh teater Indonesia, mendorong pencarian sintesis antara modernitas global dan akar budaya lokal yang kaya.

Dialog dengan Penonton

Setiap seniman teater, secara sadar atau tidak, sedang membangun sebuah arsitektur hubungan dengan penontonnya. Pilihan paling mendasar terletak pada eksistensi sebuah “dinding keempat”—sebuah batas imajiner yang memisahkan dunia panggung dari dunia penonton. Apakah dinding itu harus dibangun setebal mungkin untuk menjaga ilusi, atau justru harus diruntuhkan untuk membangkitkan kesadaran?

Dalam tradisi realisme, dinding keempat adalah sebuah keharusan. Konsep ini menempatkan penonton pada posisi sebagai “tukang intip” (voyeur) yang menyaksikan sebuah peristiwa privat tanpa terlihat. Tujuannya adalah untuk menciptakan ilusi otonomi panggung, sebuah dunia yang berjalan dengan aturannya sendiri, seolah-olah penonton tidak ada di sana. Dengan memelihara ilusi ini, seniman berharap penonton akan larut secara emosional, melupakan bahwa mereka sedang berada di gedung teater, dan menerima apa yang tersaji di panggung sebagai sebuah kenyataan. Ini adalah arsitektur yang dirancang untuk penyerahan diri emosional.

Efek Alienasi, seperangkat teknik yang dirancang untuk “membuat yang akrab menjadi aneh” (make the familiar strange). Tujuannya adalah untuk secara aktif mencegah penonton mengidentifikasi diri secara emosional dengan karakter atau cerita. Dengan menciptakan jarak psikologis ini, penonton didorong untuk mengamati peristiwa panggung secara kritis, menganalisisnya, dan mempertanyakan kondisi sosial yang direpresentasikan. Penonton tidak lagi menjadi konsumen pasif yang “merasakan”, melainkan pengamat aktif yang “mengambil keputusan”.

Dimana aktor tidak “menjadi” karakter, melainkan “menunjukkan” atau “mendemonstrasikan” karakter tersebut. Mereka sadar bahwa mereka adalah aktor yang sedang bercerita, sebuah konsep yang terangkum dalam istilah Gestus, di mana gerak tubuh menjadi komentar sosial. Aktor dapat berbicara langsung kepada penonton, keluar dari perannya untuk memberikan komentar atau penjelasan. Adegan seringkali disela oleh nyanyian, plakat berisi teks, atau narasi yang merangkum atau mengomentari aksi yang akan atau baru saja terjadi. Ini memecah alur emosional dan memaksa penonton untuk berpikir. Menggunakan latar peristiwa sejarah misalnya Perang untuk memberikan komentar tajam tentang peristiwa kontemporer (ancaman Perang Dunia II).

Di Indonesia, gagasan ini menemukan lahan yang subur. Teater Koma di bawah arahan Nano Riantiarno adalah contoh paling populer. Adaptasinya atas The Threny Opera menjadi Opera Ikan Asin menggunakan teknik-teknik epik menyuarakan kritik pedas terhadap korupsi dan kesewenang-wenangan di era Orde Baru. Ia dengan cerdas memadukan gaya Alienasi menciptakan sebuah hibrida yang kuat dan relevan.

Keberhasilan ini menyingkap sebuah fakta menarik. Bahwa jangan – jangan bagi tradisi Barat justru memiliki kemiripan yang luar biasa dengan praktik teater rakyat Indonesia. Interaksi langsung dengan penonton, percampuran adegan serius dengan lawakan, struktur cerita yang episodik, dan kesadaran bahwa pertunjukan adalah sebuah pertunjukan semua ini adalah elemen yang sudah ada dalam Tradisi Teater Rakyat Indonesia. Artinya, ide-ide untuk membuat sesuatu yang familiar menjadi aneh adalah salah satu dari sekian banyak cerminan dari produk Kebudayaan Nusantara itu sendiri. Yang bisa dikatakan bahwa pemikiran serius barat memberikan sebuah kerangka teoretis dan muatan politis yang tajam pada sebuah cara bertutur yang secara intuitif sudah dipraktikkan di Nusantara.

Dialog dengan Teks

Jika dialog dengan sejarah melahirkan negosiasi terhadap realisme, dan dialog dengan penonton meruntuhkan dinding keempat, maka dialog paling radikal dalam teater kontemporer adalah dialog dengan teks itu sendiri. Sebuah gerakan yang dikenal sebagai Teater Postdramatik telah secara fundamental mengubah cara seniman memandang naskah, menggesernya dari pusat semesta pertunjukan menjadi salah satu konstelasi dalam galaksi panggung.

Merujuk pada praktik-praktik teater yang kemunculannya tidak lagi didominasi oleh teks drama (no longer dramatic). Ini bukan berarti teater tanpa kata-kata, melainkan sebuah pergeseran hierarki. Dalam teater postdramatik, teks verbal hanyalah salah satu elemen yang posisinya setara dengan elemen-elemen panggung lainnya: tubuh aktor, penataan ruang, desain suara, cahaya, dan penggunaan media seperti video. Fokusnya bergeser dari representasi sebuah cerita yang memiliki alur (plot) menjadi presentasi sebuah situasi atau “peristiwa” (kejadian) yang dialami secara langsung oleh penonton di ruang dan waktu yang sama.

Di Indonesia, meski istilahnya baru populer belakangan, semangat postdramatik telah berhembus kencang sejak tahun 1970-an. Kemunculannya dapat dibaca sebagai reaksi ganda: perlawanan terhadap dominasi realisme yang dianggap sudah usang, sekaligus strategi untuk mengakali sensor ketat rezim Orde Baru yang lebih fokus pada teks verbal. Sebuah evolusi fundamental dalam letak otoritas artistik. Dalam Realisme, otoritas tertinggi berada pada naskah yang ditulis oleh pengarang. Tugas sutradara dan aktor adalah menjadi medium yang setia untuk merealisasikan teks tersebut. Otoritas mulai bergeser ke tangan sutradara sebagai seorang pemikir. Naskah menjadi materi mentah yang diolah secara kritis melalui konsep pementasan untuk mencapai tujuan politis.

Otoritas menjadi terdesentralisasi. Ia tidak lagi berpusat pada satu figur, melainkan tersebar pada semua elemen pertunjukan. Makna tidak lagi dikirimkan secara linear dari naskah ke penonton, melainkan diciptakan pada saat itu juga, dalam interaksi dinamis antara tubuh aktor, ruang, suara, cahaya, dan persepsi penonton. Otoritas tertinggi kini terletak pada peristiwa pertunjukan itu sendiri. Ini adalah perjalanan dari teater yang menceritakan sesuatu, ke teater yang melakukan sesuatu, dan akhirnya, ke teater yang menjadi sesuatu.

Etika di Atas Panggung

Sebuah pertanyaan kembali muncul, sebuah dialog yang tidak lagi bersifat teknis atau historis, melainkan etis. Bagaimana seorang seniman menggunakan perangkat-perangkat canggih ini untuk berbicara tentang isu-isu sensitif seperti kemiskinan dan ketidakadilan, tanpa tergelincir ke dalam jurang eksploitasi?

Paradoks representasi penderitaan terletak di sini: di satu sisi, teater memiliki kekuatan untuk menjadi medium kritik sosial yang tajam, menyuarakan mereka yang tak terdengar. Di sisi lain, ada bahaya inheren dalam proses ini, yaitu  

komodifikasi kemiskinan. Dalam upayanya untuk menarik simpati dan membuat penonton “merasakan” penderitaan, sebuah pertunjukan berisiko mengemas kemiskinan menjadi sebuah produk emosional yang bisa dikonsumsi. Dramatisasi dan hiperrealitas sering digunakan untuk membuat kehidupan orang miskin tampak lebih menyedihkan, yang pada akhirnya bertujuan untuk memikat penonton dan meraup keuntungan, baik secara finansial maupun simbolis. Subjek manusia yang menderita pun berubah menjadi objek tontonan.

Naskah Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer menjadi sebuah studi kasus kanonik dalam pergulatan etis ini. Tokoh utamanya, Abu, adalah seorang pesuruh kantor yang hidup dalam kemiskinan materi dan spiritual. Ia terperangkap di antara realitas sosial-ekonomi yang menekan dan dunia imajinasi yang menjanjikan kebahagiaan instan melalui “cermin tipu daya”. Arifin C. Noer bisa saja menggambarkan Abu sebagai korban suci yang pasif untuk memancing iba. Namun, ia tidak melakukannya. Abu ditampilkan sebagai karakter yang kompleks: ia adalah representasi kelas bawah yang tertindas, namun di saat yang sama ia juga seorang pemalas yang enggan bekerja keras dan lebih memilih lari ke dalam fantasi.

Dengan menghadirkan Abu dalam segala kontradiksinya, Arifin C. Noer berhasil melakukan sesuatu yang krusial bagi representasi yang etis. Ia tidak hanya menampilkan potret kemiskinan sebagai sebuah kondisi visual yang menyedihkan. Lebih dalam dari itu, ia menginterogasi struktur kekuasaan yang menindas Abu (melalui sosok Majikan) dan kondisi psikologis (harapan palsu, pelarian dari realitas) yang melanggengkan penderitaan itu dari dalam diri Abu sendiri. Yang membedakan kritik sosial otentik dari eksploitasi.

Pada akhirnya, dialog paling sunyi dan paling sulit bagi seorang seniman mungkin bukanlah dengan sejarah, teori, atau bahkan penonton, melainkan dengan nuraninya sendiri. Ada sebuah tujuan mulia untuk membangkitkan empati dan kesadaran. Namun, mekanisme industri pertunjukan, yang menuntut sebuah karya harus menarik dan “menjual” emosi, menciptakan sebuah titik rawan. Garis antara upaya membuat penderitaan menjadi “terasa nyata” dan proses “mengemas penderitaan” agar bisa dinikmati oleh audiens yang beruntung menjadi sangat tipis. Setiap pilihan artistik sebuah sorot lampu, isak tangis seorang aktor, musik yang menyayat hati membawa beban etis. Apakah karya ini akan memanusiakan subjeknya dengan menunjukkan segala kerumitan mereka, atau justru mereduksinya menjadi simbol penderitaan yang indah namun dangkal untuk dikonsumsi? Cara pandang seorang seniman, pada akhirnya, adalah sebuah sikap moral.


Perjalanan menelusuri cara pandang seniman teater membawa kita pada kesimpulan bahwa panggung bukanlah sebuah ruang statis, melainkan sebuah arena dialog yang tak pernah usai. Ia adalah dialog dengan sejarah, tempat isme berdialektika. Ia adalah dialog dengan penonton, sebuah pilihan arsitektural antara membangun ilusi atau membangkitkan kesadaran. Ia adalah dialog dengan teks, sebuah gerakan pembebasan dari dominasi kata menuju perayaan tubuh dan peristiwa. Dan yang terpenting, ia adalah dialog dengan nurani, sebuah pertaruhan etis antara kritik dan eksploitasi.

Seperti diungkapkan Idham Ardi, dalam dialog via whatsapp dengan Mentas seteleah pementasan Erang oleh Teater Sandilara di RKBBR 21 September 2025.

Bahwa Dramatika baginya adalah tidak mendikotomikan antara teater sebagai ritus dan kritik sosial. Teaternya adalah kritik sosial sekaligus ritus Vertikal horizontal. Dimana mengandung kritik sosial melalui simbol dan kebijaksanaan yang disampaikan. Dengan sikap untuk selalu mengingatkan penonton bahwa ini adalah panggung dan ini adalah sandiwara. Yang artinya disitu tidak sedang mengejar gol pertunjukan sebagai ilusi.

Dimana aktor yang tidak perlu menjadi, namun ada kesungguhan peran dalam permainan irama yang sudah disepakati kelompok. Karena baginya yang terutama adalah irama, selama irama pertunjukan terjaga dengan baik, dan kejelasan teks dan dialog tersampaikan, pertunjukan akan dapat ternikmati.

Tidak ada satu cara pandang yang menang mutlak. Yang ada adalah sebuah spektrum pilihan, sebuah panggung negosiasi yang terus bergerak, merefleksikan zaman dan kegelisahan para senimannya. Kini, setelah tirai diturunkan, dialog itu tidak berhenti. Ia justru berpindah dari panggung ke dalam benak kita, para penonton, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan.


Melalui cara teater merepresentasikan realitas, cermin seperti apa yang paling kita butuhkan saat ini? Cermin yang utuh untuk menenangkan kita, atau cermin yang retak untuk membangunkan kita?

Sebagai penonton, peran apa yang secara tidak sadar sering kita mainkan? Apakah kita seorang pengintip pasif, seorang analis kritis, atau seorang partisipan dalam sebuah peristiwa? Dan bagaimana pilihan itu membentuk makna yang kita dapatkan?

Ketika kita tersentuh oleh sebuah pertunjukan tentang penderitaan, apakah yang kita rasakan adalah solidaritas sejati, atau sekadar kepuasan emosional sesaat sebelum kembali ke kenyamanan hidup kita?

Jika panggung adalah sebuah dunia rekaan, mengapa ia bisa terasa lebih “nyata” daripada berita ? Dan kebenaran macam apa yang sesungguhnya kita cari dalam kegelapan panggung teater?

Pada akhirnya, panggung itu milik siapa? Milik seniman yang menggagas, aktor yang menghidupkan, atau penonton yang memberi makna?

Lebih lanjutnya saksikan pementasan kelilingya Teater Sandilara di Solo, 5 Oktober 2025 di Taman Budaya Jawa Jawa Tengah jam 20.00 WIB.


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar