Kentongan, dalam habitat aslinya, adalah sebuah instrumen yang secara inheren bersifat environmental, ia tidak hanya mengisi, tetapi juga mendefinisikan dan mengaktifkan ruang sosial di sekitarnya. Lantas, apa yang terjadi ketika fenomena “lingkungan” yang otentik ini dicabut dari ekosistem sosialnya dan ditanam kembali di dalam sebuah “lingkungan” artifisial bernama teater? Mampukah sebuah pertunjukan “merebut” esensi komunal dari sebuah objek yang sudah menjadi lingkungan itu sendiri, atau justru ia hanya akan memenjarakannya dalam sebuah etalase estetis yang indah namun bisu?
Sebelum kita membedah pertunjukan “Kentongan”, kita harus terlebih dahulu memahami pisau bedah yang akan kita gunakan. Teater Lingkungan, yang digagas dan dipopulerkan oleh Richard Schechner dan The Performance Group pada era 1960-an sebuah pemberontakan filosofis terhadap arsitektur teater Barat yang telah mapan selama berabad-abad. Untuk memahami pertunjukan “Kentongan”, kita harus memahami empat pilar fundamental yang menopang bangunan teoretis Schechner.
Prinsip paling dasar dari Teater Lingkungan adalah penolakannya yang radikal terhadap dikotomi panggung-penonton. Teater tradisional, terutama yang menggunakan panggung prosenium, menciptakan sebuah “dinding keempat” imajiner yang memisahkan dunia fiksi di atas panggung dari realitas penonton di kursi mereka. Schechner menghancurkan dinding itu. Dalam Teater Lingkungan, “seluruh ruang digunakan untuk pertunjukan; seluruh ruang digunakan untuk penonton”. Ruang bisa berupa “ruang yang ditemukan” (found space) seperti gudang, jalanan, atau hutan, atau “ruang yang ditransformasi” (transformed space) di mana sebuah lokasi konvensional dirombak total. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah lingkungan tunggal di mana aktor dan penonton berbagi realitas yang sama. Batasan fisik dihilangkan untuk melahirkan kesatuan pengalaman spasial.
Jika ruang telah dilebur, maka hubungan antara penampil dan audiens pun harus didefinisikan ulang. Schechner menggeser paradigma dari resepsi (di mana penonton secara pasif menerima cerita) menjadi transaksi. Peristiwa teatrikal, menurutnya, adalah “seperangkat transaksi yang saling terkait”.
Jaringan pertukaran stimulus yang kompleks bisa berupa sensorik, kognitif, atau emosional—yang terjadi tidak hanya antara aktor dan penonton, tetapi juga antar-aktor itu sendiri dan antar penonton. Fokusnya bergeser dari pertanyaan “Apa makna pertunjukan ?” menjadi “Apa yang sedang terjadi di antara kita semua di dalam ruang, saat itu juga?”. Pengalaman bersama yang hidup dan bernapas di momen itu menjadi lebih krusial daripada interpretasi tunggal atas sebuah teks.
Konsekuensi logis dari peleburan ruang dan model transaksi adalah tuntutan partisipasi. Penonton tidak lagi cuma menjadi saksi mata; mereka diundang, bahkan diharapkan, untuk menjadi bagian dari peristiwa. Partisipasi bisa beragam tingkatannya, dari yang paling sederhana saat memasuki ruang pertunjukan yang tiba – tiba juga terlibat dalam konflik adegan seperti yang dilakukan Pertunjukan ” Kentongan ” nya Eddie Su dan Teater Dejavu SMK Taman Siswa yang disutradari oleh Mophet sK di Kampung Budaya Cabean desa Papringan (29/08/2025).
Dari interaksi yang lebih signifikan yang dapat memengaruhi jalannya narasi. Bersamaan dengan memperkenalkan konsep “fokus ganda” atau “fokus variabel” Alih-alih satu adegan utama yang menjadi pusat perhatian, beberapa peristiwa bisa terjadi secara simultan di berbagai sudut ruangan. Edy mondar mandir di luar panggung pertunjukan untuk mempertonnkan peleburan proses peleburannya dengan penonton. Memaksa penonton untuk secara aktif memilih ke mana mereka akan mengarahkan perhatian, meniru cara kita memproses informasi dalam kompleksitas kehidupan nyata.
Dalam teater konvensional, teks drama adalah raja. Semua elemen lain akting, tata panggung, cahaya, suara bertugas untuk “melayani” dan “mengilustrasikan” teks. Teater Lingkungan mendeklarasikan sebuah demokrasi artistik. Dimana “semua elemen produksi berbicara dengan bahasanya sendiri”. Teks bukan lagi titik awal atau tujuan akhir sebuah produksi; bahkan, sebuah pertunjukan bisa saja tidak memiliki teks verbal sama sekali.
Suara, cahaya, properti, arsitektur ruang, dan tubuh aktor adalah “teks-teks” yang setara, masing-masing memiliki kapasitas untuk menghasilkan makna secara independen maupun dalam hubungannya dengan elemen lain. Aktor bukan lagi penyampai dialog, melainkan salah satu elemen hidup dalam sebuah komposisi lingkungan yang lebih besar. Sebagai sebuah analogi sederhana untuk merangkum semua ini: jika teater tradisional ibarat kita mengagumi keindahan ikan-ikan eksotis dari balik kaca tebal sebuah akuarium, maka Teater Lingkungan mengajak kita untuk melepaskan sepatu, mengenakan pakaian selam, dan terjun langsung ke dalam air. Kita tidak lagi melihat ekosistem itu sebab kita menjadi bagian darinya, merasakan arusnya, dan mungkin saja, digigit oleh ikannya.
Dengan kerangka teori ini di benak kita, mari kita masuki kembali ke pertunjukan itu. Yang tidak bermaksud untuk memberikan sebuah ulasan, melainkan sebuah etnografi fiksional sebuah upaya untuk melukiskan dengan detail pengalaman “menyaksikan” pertunjukan ” agar kita memiliki objek analisis yang relevan untuk dibedah bersama.
Pertunjukan yang dalam ambisinya yang besar, yang kemudian justru menyoroti paradoks dan jebakan yang inheren dalam upaya merepresentasikan sebuah realitas sosial di dalam sebuah kerangka estetis. Secara tidak langsung sebagai penonton membentuk dan menciptakan sebuah arena tak terlihat. Ruang yang cair dan terdesentralisasi, pada praktiknya, menjadi terpusat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar