“Sendratari Geger Tanah Muria: Asal Mula Kretek” adalah sebuah kisah epik yang menggambarkan perjalanan sejarah yang inspiratif dari Kota Kudus, yang dikenal sebagai “Kota Kretek.” Kisah ini berawal dari masa lampau hingga mencapai kejayaannya di masa kini. Sentuhan magis dan penuh warna pada pertunjukan ini akan membawa penonton merasakan pesona dan keajaiban kota ini melalui perspektif seni pertunjukan yang menakjubkan.
Tokoh H. Djamhari yang diperankan Achmad Safrudin dalam gladi resik Pementasan Asal Mula Kretek yang ditulis oleh Yit Prayitno dan disutradarai oleh Leo Katarsis
Dalam bagian pertama pertunjukan, penonton akan disuguhkan dengan kisah masa lalu Haji Djamhari, seorang warga Kabupaten Kudus yang berjuang mencari solusi atas rasa sakit di dadanya. Eksperimennya yang menggabungkan cengkeh dan tembakau menciptakan rokok kretek yang legendaris. Bunyi khas “Kretek kretek” saat rokoknya dibakar dan dihisap membawa penonton terhanyut dalam keajaiban temuan ini yang. Eksplorasi visual menghadirkan suasana magis yang memperkuat pesona kisah dari zaman dahulu.
Setelah itu, penonton akan disuguhkan dengan narasi epik yang memadukan cerita-cerita legendaris seperti Roro Mendut, Pranacitra, Tumenggung Wiraguna, dan Nitisemito yang memiliki kisah perjuangan dan eksistensi yang berbeda – beda pada zamannya masing – masing dan dikolaboraiskan dalam satu paket panggung pertunjukan teater dengan konsep sendratari yang utuh. Perwujudan mereka serasa dihadirkan kembali untuk bersama memperbincangkan persoalan rokok kretek. Melalui gerak tari yang apik, kisah-kisah ini menjadi bagian yang menghidupkan cikal-bakal industri rokok kretek di Kota Kudus.
Tari Luh, sosok para penari dan perlambang kegetiran laju peradaban manusia. Laku geraknya dalam pertunjukan, mengungkapkan perjalanan peradaban manusia lampau hingga hantaman gelombang industri modern. Ia mencerminkan perjuangan akan pertanyaan – pertanyaan dalam benak manusia untuk menyikapinya. Geraknya sederhana, perlahan menyiratkan luka dan tangis dalam usaha menemukan eksistensi dirinya, ditengah gelombang pertanyaan zaman yang begitu cepatnya. Penonton akan terbawa dalam aliran waktu yang mendayu, membawa mereka menyelami setiap era dan menemukan makna sejati dari perjalanannya. Pertanyaan mendasar tentang bagaimana manusia harus bersikap, berjuang tetap menyelaraskan nilai tradisi di tengah kemajuan zaman dipersembahkan dengan visual gerak tari yang pedih.
Tokoh Roro Mendut, Tumenggung Wiraguna dan Pranacitra dalam gladi resik Pementasan Asal Mula Kretek yang ditulis oleh Yit Prayitno dan disutradarai oleh Leo Katarsis
Di tengah adegan pertempuran antara otoritas Tumenggung Wiraguna dan Pranacitra untuk memiliki Roro Mendut, Tari Jaran Upet hadir dengan gaya artisik khas SAMAR, eksplorasi yang lahir dari hasil dialektika ruang tradisi jaranan. Perwujudan dari kuda atau tunggangan yang merupakan sesuatu yang dimaknai sebagai alat yang berfungsi sebatas pemenuhan kebutuhannya. Dalam nilai ciptanya, dimaknai kembali sebagai sesuatu yang menjadi bagian dari manusia itu sendiri, menyatu dalam harmoni keselerasan, menunjukkan betapa manusia harus dapat menyeimbangkan keberadaannya beserta tanggung jawab sekitarnya terhadap laju perkembangan iptek yang begitu pesatnya. Seperti pusaran baru yang tanpa disadari mempertanyakan kembali kebermanfaatan hasil cipta peradaban manusia dari yang lampau, kini, dan bayangan esok hari. Mereka bergerak serentak, cepat, memanjakan mata lalu bergegas menghilang bersamaan dengan cinta Roro Mendut dan Pranacitra. Menyisakan otoritas dan ambisi Wiraguna yang tidak berbentuk.
Dengan explorasi tradisi jaranan, pertunjukan ini menciptakan konsep karya Jaran Upet yang menggambarkan manusia dan “tunggangannya” menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bergerak serentak menuju tujuan tertentu. Melalui pertunjukan “Sendratari Geger Tanah Muria” menceritakan tentang perjuangan, inovasi, dan keberanian manusia dari masa lampau hingga masa kini dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
Properti yang digunakan oleh para penari dalam sendratari Asal Mula Kretek
Panggung kembali sepi, pasar – pasar sunyi ditelan mimpi. Bahkan ruang renung tak tercipta setelahnya sebab laju gerak mesin – mesin begitu cepat tanpa jeda masuk ke dalam panggung. Menarikan gerak statis, rampak, dari perspektif estetik menyajikan pengalaman visual yang membuat mata melompat – melompat, menyaksikan 1001 satu macam jenis tampah beserta cap produk – produk rokok yang membawa tagline dan cerita dagang masing – masing. Dikemas dalam satu koreografi yang utuh menggambarkan kepolosan manusia telah menjadi mesin – mesin itu sendiri.
“Sendra Geger Tanah Muria: Asal Mula Kretek” adalah persembahan seni yang menggugah dan menginspirasi, mengangkat identitas daerah dan keajaiban dari yang tercipta sebatang rokok kretek yang sangat mempengaruhi warna kebudayaan di Kota Kudus bahkan nasional. Dari aksi sederhana pada diri H. Djamhari, NitiSemito dan Roro Mendut menimbulkan reaksi yang beruntut menjadi sebuah rantai kebudayaan yang mengakar hingga hari ini.
Pertunjukan ini diharapakn tidak hanya menjadi paparan simbol – simbol identitas kota belaka namun juga dapat mengajak penonton merenungkan dan mempertanyakan kembali perannya dalam memaknai nilai ” Kretek ” yang disadari atau tidak, faktanya sangat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam siklus berkehidupan masyarakat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar