Esai

Analisis Kritis Gerakan Seni yang Revolusioner

✍ Agam Abimanyu - 📅 22 Feb 2024

Analisis Kritis Gerakan Seni yang Revolusioner
Agam Abimanyu

Pada awal abad ke-20, terutama sejak tahun 1950-an, muncul gerakan avant garde yang membangkitkan semangat universalitas dan aktivitas humanistik, menghadirkan kemajuan dalam kehidupan mental manusia. Gerakan ini meliputi berbagai bidang seperti arsitektur, puisi, matematika, dan musik. Namun, teater tidak terpengaruh oleh avant garde karena kendala-kendala seperti perang, revolusi, dan rezim totaliter yang menghambat perkembangannya.

Bagi Eugene Ionesco, hambatan tersebut tidak menghalangi kreativitasnya dalam berkarya teater. Baginya, teater bukanlah cermin kehidupan kita, tetapi sebuah bentuk psikologi yang “seolah-olah”. Ini merupakan konstruksi yang melampaui realitas konvensional dan diikuti oleh para seniman. Menurutnya, seniman harus berjuang melawan norma-norma yang ada dengan menciptakan kebebasan dalam karya seni mereka. Dalam pandangan Ionēsco, karya seni avant garde adalah ekspresi dari pemikiran dan kreativitas yang bebas. Seniman seperti Jean Genet, Beckett, Vauthier, dan Pichette dianggap sebagai tokoh-tokoh dinamis dan merdeka dalam dunia seni. Avant garde dipandang sebagai simbol dari kebebasan.


Avant garde adalah fenomena artistik yang menjadi pelopor perubahan budaya, sebuah fase pra-gaya yang kaya akan pemahaman dan petunjuk menuju perubahan. Jika suatu pandangan telah berhasil membentuk aliran yang dominan, kemudian menjadi usang seiring berjalannya waktu, maka pandangan tersebut akan segera dilupakan. Oleh karena itu, Ionēsco menyebut avant garde sebagai bentuk pertentangan dan perusakan. Para pengarang avant garde dianggap sebagai musuh dalam selimut yang dengan gigih menghancurkan bentuk ekspresi yang sudah mapan, juga dalam bentuk penindasan. Mereka bertindak sebagai kritikus terhadap status quo.

Ciri-ciri avant garde mencakup pertentangan, pembaharuan, dan oposisi. Ciri-ciri yang merupakan protes terhadap realisme, simbol penindasan, dan kekerasan, serta menentang ketidakadilan. Teater avant garde, atau yang sering disebut sebagai teater baru, hadir melalui penemuan-penemuan baru, tantangan-tantangan, dan kritik terhadap kekuasaan. Oleh karena itu, teater baru seringkali dianggap sebagai teater minoritas dan cenderung tidak populer.


Sementara realisme dan naturalisme berusaha mengungkapkan kenyataan yang ada atau yang belum dikenal, simbolisme dan surealisme mencari kenyataan yang tersembunyi. Tantangan bagi pengarang adalah cara menyampaikan gagasannya. Pengarang avant garde berusaha mengembangkan pertunjukan teater yang berbeda dengan kembali ke akar teater, mengeksplorasi kedalaman teater di mana ditemukan bentuk-bentuk ekspresi teatrikal yang murni.

Para pengarang avant garde, yang sering disebut sebagai pengarang baru, berusaha menggabungkan unsur-unsur lama dan baru dalam karya-karya mereka. Mereka menciptakan bahasa baru dengan tema-tema baru dalam komposisi dramatik yang terbuka, lebih murni, dan lebih asli secara teatrikal. Mereka menolak pencarian tradisi yang berasal dari tradisionalisme dan berusaha menggabungkan pengetahuan dan penemuan, kenyataan dan imajinasi, serta individualitas dan kolektivitas. Karya-karya mereka mengungkapkan perasaan yang melampaui batasan definisi yang diberlakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu.


Avant garde adalah teater yang menyiapkan lahirnya teater baru. Misalnya, teater abad ke-17 dianggap sebagai teater avant garde untuk teater romantik abad ke-18. Oleh karena itu, terdapat anggapan bahwa avant garde sebenarnya adalah sesuatu yang berbeda dari persepsi manusia terhadapnya.

Gerakan avant garde ini memiliki kualitas modern yang menonjol, seperti yang terjadi pada tahun 1920-an dengan kemunculan teknologi dalam futurisme, seperti “Aeroplane Sonata” oleh George Antheil, “Poesie Elettriche” oleh Corrado Govoni, atau “Theatre of Mechanics” oleh Enrico Prampolini. Teater baru memiliki dua sisi, yaitu eksplorasi suasana mimpi atau insting bawah sadar dari psikis, dan sisi quasi-religius yang memusatkan diri pada mitos dan magis. Dalam pertunjukan teater, keduanya mengarah pada eksperimen ritual dan pola ritualistik pertunjukan.

Kedua sisi ini memiliki tujuan yang sama, yaitu kembali pada “akar” manusia, baik dalam psikis manusia maupun sebelum sejarah manusia hadir di bumi. Dalam konteks teater, hal ini tercermin dalam referensi pada bentuk-bentuk “asli” seperti ritual Dionysian dari Yunani kuno, pementasan shamanisme, drama tari Bali, dan proses trans inisiasi. Bersamaan dengan anti-materialisme dan politik revolusioner, gambaran drama avant garde mencerminkan aspirasi akan transendensi dan spiritualitas dalam arti yang paling luas.

Meskipun primitivisme sering dilihat melalui lensa Barat oleh antropolog dan etnograf, seniman kreatif mencoba untuk menginterpretasikannya kembali tanpa terjebak dalam klise eksotis dan barbar. Drama avant garde, yang mengadopsi istilah seperti “theatre laboratory” pada tahun 1960-an dan 1970-an, menampilkan primitivisme dalam bentuk teknik ritual dan adaptasi estetika untuk mengembangkan teknik-teknik pentas teater. Ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang apa yang dimaksud dengan “teater”, termasuk naskah drama, aktor, dan penonton serta hubungan di antara mereka.


Pada tahap ini, kemajuan sains dan teknologi di era modern bertepatan dengan keinginan untuk kembali pada bentuk-bentuk “primitif”. Hal ini tercermin dalam upaya untuk mengganti dominasi gaya drama yang berbasis pada isu-isu sosial dengan membangun kembali prinsip-prinsip kuno. Idealisasi primitif dalam pertunjukan teater, bersama dengan redifinisi dan adaptasi model-model kuno, dapat dianggap sebagai kelanjutan dari orientalisme romantik abad ke-19.

Selain itu, pengaruh primitif juga terlihat dalam peminjaman unsur-unsur dari budaya-budaya lain seperti patung Afrika atau peninggalan Indian pra-Columbia dalam seni visual Post-Impresionisme. Ini juga tercermin dalam terapi “primal” Freud dan minatnya dalam “Totem and Taboo” untuk mengeksplorasi asal-usul agama dan moralitas, serta nilai-nilai antropologis yang ditempatkan pada situasi primitif oleh Levi-Strauss. Semua ini menunjukkan bahwa primitivisme telah meresap ke dalam berbagai aspek budaya modern.


Aspek primitif dalam pertunjukan teater, baik dalam bentuk teknik ritual atau adaptasi dari tradisi-tradisi kuno, bersama dengan eksplorasi situasi mimpi dan imaji surealis, mencerminkan kompleksitas gerakan avant garde. Beberapa subgerakan sulit dibedakan karena pengaruhnya yang saling melengkapi. Pengaruh avant garde dapat ditemukan tidak hanya dalam institusi resmi seperti Theatre National Populaire yang mencari “subyek seremonial” untuk menciptakan interaksi antara aktor dan penonton, tetapi juga dalam eksperimen teater lainnya.

Avant garde juga muncul dalam bentuk lain dari teater eksperimental, seperti peminjaman dari teater Jepang Noh atau penggunaan mantera dan gerakan ritual. Karya-karya seperti itu, seperti yang dihasilkan oleh Samuel Beckett, menunjukkan hubungan dengan simbolisme dan psikodrama, menciptakan imaji minimalis yang berbeda dengan fokus utama avant garde pada pembebasan sisi primitif dari psikis.

Meskipun terdapat persamaan stilistik dalam karya-karya seniman seperti Yeats, Beckett, Cocteau, Breton, Adamov, dan T.S. Eliot, esensi dasar seni mereka berbeda secara fundamental dari primitif anarkis dan politik radikal yang menjadi inti avant garde. Avant garde bukanlah sekadar gaya atau gaya teatrikal tertentu, melainkan sebuah pandangan filosofis yang menghubungkan anggotanya melalui pendekatan estetika tertentu dan keinginan untuk mengubah bentuk alamiah pertunjukan teater, yang semuanya ditambahi dengan berbagai ideologi yang berbeda.

Dalam kesimpulan, gerakan avant garde tidaklah merupakan fenomena artistik, tetapi juga sebuah pandangan filosofis yang mengubah paradigma seni dan budaya. Melalui perjuangan melawan norma-norma yang ada dan penelusuran kembali ke akar-akar manusia, avant garde telah menciptakan ruang bagi eksperimen dan inovasi yang menginspirasi perkembangan seni dan budaya di seluruh dunia. Dengan menggabungkan elemen-elemen lama dan baru, avant garde terus menghadirkan karya-karya yang merespons zaman dan menggugah pemikiran serta perasaan penonton, menjadikannya sebagai salah satu gerakan paling berpengaruh dalam sejarah seni modern.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar