Komunitas Seni Samar dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah membawakan lakon Berjudul Ampak – Ampak Jaran Upet pada 29 Oktober 2023 di Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lakon tersebut merupakan sebuah episode baru dari Lakon Barongan Ndas Papat yang merupakan ekspolorasi dari gagasan mitologi tanah Muria.
Para Samarian tampil apik dan membanggakan, menyajikan kolaborasi karnaval menjadi sebuah pertunjukan yang melibatkan penonton di dalam panggungnya. Membawakan kegembiraan sekaligus pengantar gagasan kearifan lokal yang menceritakan tentang bentuk barongan berkepala empat yang merupakan manisfestasi dadi sedulur papat limo pancer.
Salah satu hal yang menarik bahwa mereka sengaja memilih perempatan jalan sebagai teknik muncul sekaligus pembuka dalam adegan pertempuran Rananggana dengan empat kepala barongan tersebut. Edy Susanto,SE yang merupakan salah satu pemain barongan sekaligus pimpinan produksi menyampaikan bahwa mereka sengaja memilih perempatan itu sebagai medan pertempuran yang merupakan simbol arah mata angin dalam pemahaman masyarakat Jawa.
Kemudian ketika ditanya tentang gagasan garap lakon tersebut, ia juga menjelaskan tentang gelombang peradaban yang bergerak begitu cepat khusunya teknologi yang termanifestasikan dalam gerakan rampak dari Ampak – Ampak Jaran Upet. Menurutnya arus perkembangan itu akan menggerus nilai – nilai kemanusiaan yang sudah mapan, manusia terancam relevansinya terhadap gelombang zaman. Salah satu contohnya lahirnya pekerjaan – pekerjaan baru yang belum terpahami sehingga seringkali menunculkan masalah sosial ekonomi.
Berbicara tentang kearifan lokal merupakan pijakan yang dibawakan oleh Komunitas Seni Samar atau yang dikenal dengan Teater Samar, ia juga mengemukakan bahwa hendaknya kita harus berani untuk mulai melihat kembali pijakan – pijakan yang lampau sebagai bentuk pertahanan dan kebijaksanaan untuk menghadapi gempuran gelombang ketidak pastian akibat mimpi yang dibawa teknologi informasi. Terus mengeksplorasinya menjadi bentuk kreatifitas baru yang selalu update supaya bisa menjadi pijakan dan relevansi untuk generasi mendatang.
Sebab ia merasa gejala persoalan identitas diri manusia hari ini semakin bias. Kita harus mampu berdamai denganya melaui kesadaran kemanusiaan kita dan menggunakan filter kebijaksanan untuk lebih memahami apa – apa yang terserap dari informasi di era post truth ini.
Kemudian mengenai bentuk pementasan yang melibatkan emosi penonton di jalanan dan kemudian menjadi sebuah panggung teater, Ia tidak ingin ambil pusing untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengungkapan untuk lebih fokus kepada dampak kegembiraan dan tontonan alternatif yang dihadirkan kepada warga Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Ia mengaku sangat senang sebab dapat memperkenalkan sebuah ruang mitologi tentang tanah Muria yang dikemas dalam berbagai konsep pertunjukan dari eksplorasi cerita Rananggana yang konon katanya adalah sebuah medan pertempuran lampau yang tercatat di kawasan Muria.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar