Pagi itu, Minggu 12 Oktober, halaman Komplek Makam Sidomukti di Kaliputu Kudus dipenuhi langkah-langkah yang menua dalam doa. Udara lembab, tapi ringan. Seolah embun yang menggantung di dedaunan itu ikut menunggu: apa yang akan dibaca dari nama-nama yang tertulis di batu nisan hari ini?
Kami, rombongan kecil dari Lelana Kudus, Mooi Koedoes, dan Pojok Kliping, datang untuk membaca ingatan. Bukan hanya ingatan tentang darah bangsawan, tetapi ingatan tentang bagaimana sebuah trah pernah memikirkan masa depan dengan caranya sendiri.
Acara dimulai di halaman depan makam. Sederhana. Tak ada upacara resmi. Hanya doa, tabur bunga, dan percakapan lirih tentang siapa-siapa yang bersemayam di sana. Ziarah dimulai dari makam Tjandranegaran III, lalu bergeser ke Tjandranegaran IV, menelusuri beberapa pusara lain yang namanya pernah tercatat dalam sejarah kepangrehprajaan Jawa. Hingga akhirnya berhenti di makam yang paling banyak dibicarakan hari itu: Raden Mas Panji Sosrokartono—seorang bangsawan yang hidup sebagai intelektual yang tersohor.
Dalam setiap langkah di tanah Sidomukti, seolah kita sedang menapak garis panjang sejarah pesisir utara Jawa. Di sini, darah yang mengalir bukan hanya darah kebangsawanan, tapi juga darah pengetahuan. Trah Tjandranegaran, seperti disebut H. Sutherland dalam Notes on Java’s Regent Families, termasuk satu dari sedikit dinasti yang membangun kekuasaan di pesisir utara dengan kecerdikan: menjalin hubungan dengan VOC tanpa kehilangan martabat Jawa.
Namun, yang paling menarik bukanlah soal kedekatan mereka dengan kolonial, melainkan bagaimana trah ini membaca zaman. Di saat banyak bangsawan masih bersembunyi di balik tembok puri dan upacara kebesaran, keluarga Tjandranegaran membuka diri terhadap dunia Barat. Mereka mengizinkan anak-anaknya belajar bahasa Belanda, membaca buku, bahkan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Mungkin, inilah bentuk awal dari modernitas Jawa: kesediaan untuk berubah tanpa kehilangan rasa. Sebuah sikap yang, dalam bahasa filsafat Max Weber, bisa disebut sebagai ethos transformasi. Bukan modernitas yang tercerabut, tapi modernitas yang tumbuh dari tanah sendiri.
Di antara pusara Tjandranegaran III dan IV, saya teringat kisah perpindahan besar yang dilakukan keluarga ini dari Jawa Timur ke Muria. Tahun 1797, Gubernemen meminta Tjondronegoro II, kala itu Bupati Lamongan, untuk pindah ke Pati—mengatasi kerusuhan dan menata ulang kadipaten yang bergolak. Dari sanalah akar trah ini menancap di tanah Muria.
Ketika Perang Jawa meletus (1825–1830), Tjondronegoro III berdiri di sisi yang rumit. Ia bukan pejuang seperti Diponegoro, tapi bukan pula penindas. Ia seorang administrator di tengah benturan dua peradaban: antara kerajaan dan kolonialisme. Dalam dilema itu, kita melihat wajah klasik bangsawan Jawa: setia sekaligus terbelah.
Lalu sejarah berlanjut. Setelah perang usai, Tjondronegoro III menjadi Bupati Kudus dan mewariskan jabatan itu kepada putranya, Tjondronegoro IV, pada tahun 1834. Dari sinilah keluarga ini mencapai puncak kemuliaan. Empat dari lima putranya menjadi bupati di berbagai daerah: Kudus, Demak, Semarang, Jepara, hingga Brebes.
Bila kita membaca jejak itu dengan kacamata sosiologi Pierre Bourdieu, trah ini bukan sekadar “elit tradisional”. Mereka memelihara modal simbolik—penghormatan, kehormatan, pendidikan—yang kemudian dikonversi menjadi modal sosial dan politik. Dalam bahasa sederhana: mereka mengerti cara hidup di antara dua dunia—Jawa dan Eropa—tanpa kehilangan arah.
Namun ziarah ini tidak berhenti pada kisah masa lalu. Di bawah pepohonan Sidomukti, kita seakan mendengar bisikan lain: suara seorang yang berbeda dari para leluhurnya. Sosok yang memilih meninggalkan jabatan, hidup sebagai pengembara, tapi justru dikenang paling lama: Raden Mas Panji Sosrokartono.
Namanya memantul di antara batu nisan seperti gema dari dunia lain. Lahir sebagai bangsawan, ia menolak kemewahan bangsawan. Pergi ke Belanda untuk belajar di Universitas Leiden, tapi di sana ia nyaris kehilangan segalanya. Kisah hidupnya—sebelum menjadi sosok sufi yang dikenal banyak orang—adalah kisah tentang jatuh, bangun, dan penebusan.
Sosrokartono muda pernah terperangkap dalam gaya hidup hedonis. Ia bergaul dengan kalangan seniman dan pelajar Eropa, berhutang, dan hampir kehilangan arah. Keluarganya di Jepara malu. Ayahnya mengirim surat panjang—penuh cinta tapi juga ketegasan—kepada beberapa sahabat Belanda lamanya, meminta mereka menolong “anak Jawa yang tersesat di negeri dingin itu.”
Dari bantuan itulah ia kembali menata diri. Hidup prihatin. Ia bekerja serabutan, menerjemahkan naskah, hingga akhirnya bisa menyelesaikan studinya. Dalam kesunyian Leiden, Sosrokartono menulis dan merenung. Dari sinilah lahir pandangannya tentang pendidikan: bahwa pengetahuan bukanlah milik orang Eropa saja.
Puncaknya, ia membawakan pidato dalam Kongres Bahasa Belanda di Gent, Belgia—pidato yang menggetarkan. Ia berbicara tentang perlunya pendidikan bagi orang Jawa. Tentang kesetaraan bahasa, dan tentang martabat manusia yang tidak boleh diukur dari warna kulit atau silsilah.
“Pendidikan,” katanya, “bukan soal menjadi Eropa, tetapi menjadi manusia yang mengerti dirinya sendiri.” Pidato itu membuat namanya dikenal luas. Seorang pelukis Belanda terkenal bahkan melukis potretnya. Surat-surat adiknya, termasuk dari Kartini, mengisahkan bagaimana perubahan itu membuat keluarga terharu. Semua kisah ini kemudian dirangkum dengan indah dalam buku Di Negeri Penjajah karya Harry Poeze.
Ziarah kami mencapai puncak ketika berdiri di depan makam Sosrokartono. Tak ada gapura besar. Hanya nisan sederhana bertuliskan namanya dan tahun wafatnya. Di sekitarnya, bunga kenanga yang layu masih menebar wangi samar.
Di titik ini, ziarah berubah menjadi permenungan. Sosrokartono bukan hanya seorang tokoh sejarah. Ia simbol dari pergulatan modernitas Jawa. Dalam istilah filsafat, ia melampaui dialektika “kolonial dan terjajah”, menjadi manusia bebas yang memilih jalan sunyi: mengabdi lewat pengetahuan dan kasih.
Ia pernah berkata dalam salah satu suratnya, “Aku ingin menjadi manusia yang berguna tanpa perlu dikenal, yang memberi tanpa harus memiliki.” Barangkali inilah bentuk tertinggi dari etika Jawa yang berpadu dengan spiritualitas modern: kesadaran untuk melayani tanpa pamrih.
Ziarah ini membawa saya berpikir tentang arti “trah” di zaman sekarang. Dalam bahasa lama, trah berarti keturunan, darah, silsilah. Tapi dalam pandangan sosiologi modern, trah bisa dimaknai sebagai habitus: kumpulan nilai dan cara hidup yang diwariskan lintas generasi.
Trah Tjandranegaran bukan sekadar keluarga bangsawan; mereka adalah miniatur dari bagaimana bangsa Jawa menegosiasikan perubahan. Dari birokrasi kolonial ke modernitas, dari kekuasaan ke kesadaran.
Filsafat sosial mengajarkan bahwa masyarakat bergerak melalui tiga lapisan nilai (meminjam Max Scheler): nilai vital, nilai spiritual, dan nilai kebenaran. Trah ini pernah menempuh semuanya—dari kekuasaan (vital), pendidikan (spiritual), hingga akhirnya menemukan kebenaran (etis) dalam diri Sosrokartono.
Mereka adalah kisah tentang manusia yang belajar menjadi manusia. Dari penguasa menjadi pengabdi. Dari bupati menjadi guru kehidupan. Mungkin, inilah yang membuat ziarah terasa istimewa: kita tidak sedang menyembah masa lalu, tapi bercakap dengannya. Menyadari bahwa sejarah bukan cermin, melainkan jendela. Melalui jendela itu, kita melihat masa depan.
Di tengah zaman yang serba cepat dan kehilangan arah moral, kisah Tjandranegaran memberi pelajaran tentang kebijaksanaan adaptif: bagaimana kekuasaan harus diimbangi dengan pengetahuan, dan pengetahuan dengan kerendahan hati.
Dalam setiap langkah di tanah Sidomukti, saya teringat pada kalimat R.A. Kartini kepada sahabatnya, Estelle Zeehandelaar: “Kakekkulah yang mula-mula memberikan putra-putra serta putri-putrinya pendidikan Barat. Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh.”
Kalimat itu lahir bukan dari kesombongan, tetapi dari kesadaran bahwa kebodohan adalah bentuk penindasan yang paling halus. Ziarah hari itu berakhir menjelang tengah hari. Langit Kudus berwarna abu pucat. Angin dari arah utara membawa bau asin laut yang jauh. Satu per satu peziarah meninggalkan kompleks makam, tapi percakapan tentang trah ini masih menggantung di udara.
Saya berjalan perlahan ke luar. Di belakang saya, makam Sosrokartono tampak teduh di bawah pohon asem tua. Saya membayangkan ia tersenyum kecil—seolah ingin berkata bahwa pengetahuan tidak pernah berakhir di batu nisan.
Dalam dunia yang terus berubah, kisah-kisah seperti miliknya mengingatkan kita bahwa masa depan hanya bisa dibangun oleh mereka yang berani menafsirkan masa lalu dengan hati. Filsafat Jawa sering berkata, urip iku mung mampir ngombe—hidup hanya mampir minum. Tapi dalam ziarah ini saya belajar sesuatu yang lain: hidup bukan hanya mampir, tetapi juga menyambung. Menyambung nilai, menyambung laku, menyambung cita-cita yang belum selesai.
Trah Tjandranegaran telah menuliskan babak panjang tentang bagaimana manusia Jawa memeluk modernitas tanpa kehilangan jiwanya. Dari Tjondronegoro II hingga Sosrokartono, dari penguasa pesisir hingga intelektual dunia, semuanya menunjukkan bahwa kemajuan tak selalu berarti meninggalkan akar.
Di antara nisan-nisan itu, saya merasa seolah mendengar bisikan masa depan: bahwa ilmu tanpa budi hanyalah kesombongan, dan kekuasaan tanpa cinta hanyalah kehampaan. Mungkin, inilah inti dari ziarah filsafat: berjalan di antara makam, tapi sebenarnya sedang berjalan di dalam diri sendiri. Semoga. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar