Tentang Event
Dari mana kota Kudus mendapatkan predikat kota kretek? Dari zaman dahulu, Kudus telah memperoleh predikatnya sebagai “Kota Kretek” yang legendaris. Kisahnya dimulai dari eksperimen Haji Djamhari, warga Kabupaten Kudus, yang mencari solusi atas rasa sakit di dadanya. Ia menggabungkan cengkeh dan tembakau yang diiris tipis, lalu merajangnya menjadi rokok. Kemudian ketika dibakar dan dihisap berbunyi “Kretek kretek”. Bunyi cengkeh terbakar menginspirasi namanya, dan sejak itu, sejarahnya tak tergoyahkan.
Sama seperti kisah-kisah epik abad ke-17, seperti Roro Mendut, Pranacitra, dan Tumenggung Wiraguna, yang tak bisa lepas dari cerita mengenai kretek. Roro Mendut menjadi lambang perlawanan terhadap tekanan pajak karena menolak perjodohan dengan Tumeggung Wiraguna. Keberanian menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna mengakibatkan Roro Mendut harus membayar pajak yang dibebankan kepadanya. Roro Mendut dalam menjual rokok lintingannya dengan lem dari jilatan lidah menjadi terobosan ekonomi untuk memenuhi tuntutan membayar pajak kepada Tumenggung Wiraguna. Dengan metode pemasaran menggunakan fantasi yang erotik membuat rokok linting buatanya menjadi trend pasar dimasa itu. Konon dari strategi “perempuan dalam pemasaran” menjadi inspirasi industri rokok dalam memasarkan produk – produknya hari ini.
Di masa kolonial, Nitisemito muncul sebagai tokoh yang diakui sebagai pelopor industri rokok modern pada masanya. Salah satu produknya, Bal Tiga, menjadi terkenal di zamannya. Bahkan dari berbagai sumber Ia juga dikisahkan menjadi salah satu tokoh yang memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui keberhasilan industrinya.
Kini, cikal-bakal dari temuan-temuan tersebut dipajang di Museum Kretek, satu-satunya museum rokok kretek yang eksklusif hanya ada di Kabupaten Kudus. Ide mendirikan museum ini timbul dari Gubernur Jawa Tengah, H. Ismail, yang ingin Kudus menjadi pusat informasi tentang rokok kretek. Persatuan Pabrik Rokok Kudus (PPRK) mendukung gagasan ini dan akhirnya Museum Kretek pun berdiri. Selain Museum, desa Getas Pejaten, kecamatan Jati, juga akan menyuguhkan rumah adat Kudus di area seluas 4,5 ha.
Gerbang Kudus Kota Kretek menjadi simbol baru yang menandai kedigdayaan Kota Kretek. Bangunan gerbang futuristik ini bertujuan untuk memperkuat posisi Kudus sebagai kota pionir rokok kretek. Meskipun klaim kota lain muncul sebagai kota pertama yang menghasilkan rokok kretek, namun gerbang ini menjadi titik fokus untuk menghimpun kebanggaan kota. Bentuknya yang menyerupai daun tembakau melindungi ruas jalan kiri dan kanan, dan ketinggiannya mencapai 12 meter dari permukaan jalan, dengan lebar 21 meter. Gerbang ini menjadi ikon megah yang mencerminkan kehebatan Kota Kretek.
Tari Luh dan Jaran Upet Dalam Bagian Panggung Sendratari
Ditengah banyaknya pelaku seni dengan kreasinya mengangkat Identitas Kabupaten Kudus, Komunitas Seni Samar mendapatkan kesempatan untuk turut menjadi bagian dalam peristiwa sejarah sebagai duta Seni di TMII Jakarta dengan lakon Asal Usul Kretek.
Salah satu hal menarik yang menjadi sorotan adalah tentang bagaimana penggarap menyatukan berbagai versi cerita seperti Roro Mendut, Djamhari, dan Nitisemito dalam satu panggung pertunjukan dengan eksistensi dan ekspresi yang berbeda – beda menjadi satu paket pertunjukan yang utuh, yang kemudian disisipi Tari Luh dan Jaran Upet yang mewaranai sekaligus membuka ruang tanya baru tentang makna dari sekedar paparan visual perjalanan industri rokok.
Tari Luh mengungkapkan makna – makna tangis dan getir perjalanan peradaban manusia. Dengan perjuangan – perjuanganya untuk menemukan eksistensi dirinya. Dari peradaban kuno hingga pengaruh – pengaruh gerak industri modern yang mewarnai perjalanan manusia hari ini.
Dalam kajian ini selain membahas tentang Asal Mula Kretek sebagai Identitas daerah. Juga tentang sajian karya Jaran Upet, salah satu bagian dalam keutuhan estetika sendratari. Kalau kita memandang sebuah pertunjukan sebagai bentuk ekspresi dan simbol yang ingin disampaikan oleh penggarap, lantas apa itu Tari Luh dalam bagian Sendratari Asal Usul Kretek ?
Komunitas Seni Samar yang juga dikenal dengan Teater Samar, dalam proses eksplorasi ruang artistik, tidak lepas dari proses dialektika. Penjelajahan yang menghantarkan masuk kedalam tradisi jaranan.
Melahirkan konsep karya Jaran Upet, yang menggambarkan tentang arus percepatan teknologi peradaban manusia hingga pertanyaan mendasar tentang bagaimana manusia mesti bersikap untuk menghadapinya. Jaran atau kuda dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai tunggangan dalam pemenuhan kebutuhan transportasi manusia. Artinya tunggangan hanya diposisikan sebagai objek alat dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Namun dalam perwujudan Jaran Upet nampak manusia dengan ” tunggangannya ” menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bergerak serentak menuju sesuatu. Dengan memperhatikan bentuk ekspresi dan simbol yang sering disiratkan dalam garapan – garapan Teater Samar, tentu hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik untuk dibedah.
Singkat kata, saksikanlah pementasan Sendratari Geger Tanah Muria – Asal Usul Kretek oleh Komunitas Seni Samar di TMII Jakarta pada 30 Juli 2023 Mendatang.
Lokasi
TMII Jakarta
TMII Jakarta