Tentang Event
Ada banyak hal yang berubah tanpa suara yang cukup keras untuk kita dengar. di bumi yang kita pijak hujan yang jatuh tidak selalu setelah kemarau,Pohon pohon besar di pegunungan yang berganti tanaman sawit
Atau Batang pohon kopi yang merangsek semakin ke atas mengiris batas vegetasi pepohonan gunung yang perlahan berkurang satu per satu,
Sedangkan di jantung kota ruang ruang kemanusiaan warganya semakin samar titiknya, ruang ruang Temu hanya berdasar transaksi dan pundi pundi ekonomi, sesekali latah mengikuti tren tren untuk budaya Fomo generasi kekinian, Ruang Publik jalanan untuk
pejalan kaki yang perlahan kehilangan fungsinya, hingga kebingungan berebut lewat dengn deru mesin kendaraan di tengah aspal, sungai yang semakin asing bagi warganya sendiri, tenang saat kemarau dan ganas saat musim hujan tiba, atau langit yang tak lagi sama seperti yang kita kenal dulu. tak sebiru cerita nenek moyang kita dahulu,hingga sulit menemukan burung terbang di bawah awan,Semua itu hadir di sekitar kita, tetapi sering kali tertutup oleh hiruk-pikuk yang lebih mendesak.
Barangkali karena itulah kita perlu sejenak menepikan jiwa guna mengolah rasa menemukan jalannya. Melalui puisi, musik, dan lukisan, ia mengajak kita melihat kembali hal-hal yang kerap terlewat. Bukan untuk menggurui, bukan pula untuk menawarkan jawaban yang selesai, melainkan membuka ruang agar kita bisa mendengar lebih jernih apa yang sedang terjadi di sekitar.
Di sebuah sore menjelang akhir Juni, beberapa suara, nada, dan sapuan warna akan berjumpa. Mereka membawa kegelisahan, harapan, kenangan, dan pertanyaan tentang lingkungan hidup, ruang publik, serta masa depan yang sesungguhnya kita bagi bersama. Sebuah pertemuan sederhana yang tumbuh dari keyakinan bahwa percakapan tentang bumi tidak selalu harus hadir dalam pidato atau perdebatan; kadang ia lahir dari larik puisi, denting musik, atau garis-garis yang perlahan membentuk gambar.
Bisik Bumi di Atas Trotoar menjadi salah satu cara untuk merawat kepekaan itu. Sebuah kesempatan untuk memberi waktu pada diri sendiri, berhenti sejenak dari lalu-lalang keseharian, dan mendengarkan apa yang selama ini mungkin hanya terdengar sebagai bisik.
Hingga kita menemu Hari Minggu
Tanggal 28 Juni 2026
Trotoar depan Rumah Kreatif Lesbumi Kudus
15.30–17.30 WIB
Sebab terkadang, perubahan besar justru berawal dari kesediaan untuk mendengar suara-suara yang paling pelan.