

Oleh Imam Khanafi, penulis esai, tinggal di Kudus
ADA saat-saat ketika kebudayaan tidak hadir sebagai perayaan yang riuh, melainkan sebagai bisikan halus yang meminta untuk didengarkan dengan lebih pelan. Ia hidup dalam jeda, dalam ingatan yang hampir terlewat, dan dalam kesediaan manusia untuk menoleh ke belakang tanpa rasa nostalgia berlebihan. Dari sanalah kesenian tradisi menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi cermin yang mengajukan pertanyaan sunyi kepada kita hari ini, apakah kita masih mau merawat yang rapuh, yang sederhana, dan yang nyaris dilupakan, agar ia tetap bernapas di tengah perubahan zaman.
Pertanyaan itulah yang seolah menyapa saya ketika melihat unggahan Instagram @sangdalangterakhir, ingatan saya seperti disentuh cahaya lampu blencong yang menembus gelap. Program ini bukan sekadar agenda kesenian, melainkan ikhtiar menyelamatkan Wayang Klithik Wonosoco melalui dokumentasi film, pertunjukan publik, dan kegiatan edukatif dan sebuah upaya merawat ingatan agar tak lapuk oleh zaman. Pada poster yang sunyi namun megah itu, dua figur wayang saling berhadap-hadapan, seolah berdialog tentang waktu: tentang apa yang pernah hidup dan apa yang masih mungkin diselamatkan. Tanggal 10 Januari 2026 malam menjadi penanda, ketika malam di Taman Padang Mbulan Wates akan menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan, lewat tangan Ki Sutikno yang kembali menggerakkan kayu-kayu bernyawa.
Napas kolektif yang disiapkan pelan-pelan agar seni bisa hadir dengan khidmat. Ketika Ki Sutikno pentas wayangan, yang bergerak bukan hanya tokoh-tokoh klithik, melainkan juga pertanyaan tentang masa depan kebudayaan: apakah ia akan terus hidup di panggung-panggung kecil yang dirawat warga, atau perlahan menghilang di balik arsip dan etalase. Malam itu, wayang tidak hanya dipertontonkan, tetapi dipertaruhkan sebagai pengetahuan, sebagai ingatan, sebagai laku hidup.
Ingatan saya lalu kembali ke awal 2025, saat terakhir bertemu Ki Sutikno di rumahnya, bersama Huda dari Murianews dan Umam dari Betanews. Kesederhanaan rumah itu terasa jujur, nyaris getir: wayang-wayang disimpan di balai desa, jarang dimainkan, seperti suara yang menunggu didengar. Di sana saya melihat dengan terang betapa kebudayaan sering hidup justru di pinggir, dirawat oleh kesetiaan pribadi, bukan oleh kebijakan yang memadai. Maka pertunjukan ini menjadi lebih dari acara; ia adalah pengingat bahwa seni bertahan bukan karena gemerlap, melainkan karena ada orang-orang yang memilih setia, meski sunyi.
Di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kesenian tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari tanah, air, dan doa-doa yang berulang dalam waktu panjang. Wayang Klithik Wonosoco merupakan wayang kayu pipih yang digerakkan dengan tangan dalang bukan sekadar bentuk seni pertunjukan, melainkan bagian dari kosmologi desa. Ia hidup bersama ritual bersih sendang, bersama kisah tentang mata air yang dijaga, dan bersama ingatan kolektif tentang leluhur.
Cerita lisan desa menyebutkan bahwa Wayang Klithik lahir bersamaan dengan pendirian Wonosoco. Dalam kisah itu, Pangeran Kajoran dari Mataram dan Ki Saji bersemedi setelah peperangan. Dari semedi itu, dua mata air yaitu Sendang Dewot dan Sendang Gading yang muncul sebagai penanda kehidupan baru. Air bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga pusat spiritualitas. Di sekitar air itulah, Wayang Klithik tumbuh sebagai medium doa, pengingat, dan penuntun moral.
Perkiraan sejarah menempatkan Wayang Klithik Wonosoco telah ada sejak abad ke-13, sebuah masa peralihan penting di Jawa ketika Islam mulai menyebar dan bernegosiasi dengan tradisi pra-Islam. Wayang Klithik menjadi ruang temu: antara dakwah dan ritus lama, antara kisah-kisah babad Jawa dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun. Dari awal kelahirannya, ia tidak pernah hanya menjadi tontonan.
Berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan bahan kulit kerbau dan mengambil sumber cerita dari Mahabharata atau Ramayana, Wayang Klithik Wonosoco diukir dari kayu jati tipis. Pilihan bahan ini bukan kebetulan. Kayu jati dikenal kuat, tahan lama, dan lekat dengan lanskap hutan Jawa. Dalam konteks Wonosoco, kayu menjadi simbol keteguhan dan keterikatan dengan alam.
Cerita-cerita yang dimainkan pun berasal dari babad Tanah Jawa: kisah Majapahit, Singosari, Demak Bintoro, Damarwulan, hingga konflik kekuasaan lokal yang tidak tercatat dalam sejarah resmi. Babad tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi menyimpan tafsir moral tentang kepemimpinan, kesetiaan, pengkhianatan, dan hubungan manusia dengan kekuasaan.
Dalam pementasan Wayang Klithik, sejarah tidak hadir sebagai kronologi kaku. Ia hadir sebagai kisah hidup yang dapat ditafsir ulang sesuai konteks zaman. Konflik masa lalu beresonansi dengan persoalan hari ini: perebutan kuasa, kerusakan alam, dan hilangnya keseimbangan sosial. Dengan cara itu, Wayang Klithik menjadi arsip hidup dan sebuah sejarah yang terus bergerak.
Wayang Klithik Wonosoco tidak dapat dipisahkan dari ritual desa. Pementasan biasanya digelar pada bulan Ruwah atau Syawal, bertepatan dengan upacara merti sumber atau bersih sendang. Sebelum pentas, wayang-wayang kayu menjalani ritual pembersihan. Prosesi ini bukan formalitas, melainkan pengakuan bahwa wayang memiliki unsur magis dan spiritual.
Pengiring musik khas bernama Galak Ganjur mengisi ruang bunyi pementasan. Irama dan tabuhannya berbeda dari gamelan pada umumnya, menghadirkan suasana tegang sekaligus sakral. Musik, dalang, wayang, dan penonton menyatu dalam satu tubuh kolektif desa. Tidak ada jarak tegas antara yang menonton dan yang dipentaskan; semua terlibat dalam pengalaman bersama.
Dalam konteks ini, Wayang Klithik berfungsi sebagai medium komunikasi antara manusia, leluhur, dan alam. Ia mengingatkan bahwa mata air harus dirawat, hutan harus dijaga, dan harmoni sosial tidak boleh diabaikan. Nilai-nilai ini disampaikan bukan lewat khotbah, tetapi lewat cerita.
Hari ini, Wayang Klithik Wonosoco berada di titik kritis. Dari generasi ke generasi, tradisi ini diwariskan melalui garis dalang. Namun kini, hanya tersisa satu dalang aktif: Ki Sutikno, generasi kedelapan dalang Wayang Klithik Wonosoco.
Lebih dari 30 tahun Ki Sutikno mendalang, belajar langsung dari ayahnya, dan setia membawakan lakon-lakon klasik babad Tanah Jawa. Ia bukan sekadar seniman, tetapi penjaga ingatan. Setiap gerak wayang, setiap dialog, menyimpan pengetahuan yang tidak tertulis di buku.
Kekhawatiran Ki Sutikno bukan hanya soal tidak adanya penerus, tetapi tentang kemungkinan Wayang Klithik kehilangan maknanya. Tanpa praktik hidup, wayang bisa berubah menjadi artefak museum: diam, dibekukan, dan terlepas dari konteks ritualnya.
“Wayang Klithik bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa. Jika tidak diwariskan, semua itu bisa hilang,” kata-kata yang sering ungkapkan Ki Sutikno.
Melalui sanggar “Ngesti Laras Madya”, Ki Sutikno berusaha membuka ruang belajar bagi generasi muda. Namun di tengah perubahan sosial, minat untuk menjadi dalang tidak mudah tumbuh. Mendalang bukan hanya soal keterampilan, tetapi komitmen hidup.
Sekarang, bagaimana menjaga agar Wayang Klithik tetap hidup sebagai praktik, bukan sekadar simbol? Pelestarian tidak cukup dengan menyimpan atau mendokumentasikan. Ia membutuhkan ruang tampil, ruang belajar, dan keterlibatan masyarakat.
Wayang Klithik Wonosoco mengajarkan bahwa seni tradisi bukan peninggalan mati. Ia adalah proses yang terus berlangsung, rapuh, dan bergantung pada relasi manusia. Ketika satu dalang terakhir masih bertahan, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah kesenian, tetapi cara pandang terhadap sejarah, alam, dan kehidupan bersama.
Di Wonosoco, wayang kayu itu masih digerakkan. Suaranya mungkin semakin lirih, tetapi selama ia masih dipentaskan, ingatan desa belum sepenuhnya hilang. Wayang Klithik mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu ditulis di buku, kadang ia hidup di panggung kecil, di tangan seorang dalang, menunggu untuk terus didengarkan. (*)



