

Dunia seni pertunjukan kembali diramaikan dengan hadirnya sebuah ruang kolektif bertajuk “Serah“. Acara yang digelar pada akhir pekan lalu 24 Januari 2026 menjadi sebuah selebrasi untuk mengalami seni tari secara komunal yang mempertemukan berbagai lintas generasi seniman tari.
Mengusung gerakan yang intim. Yang dibarengi dengan kuratorial oleh Diah Pitarini S.Ssn dan dialog bersama soal pilihan genre Tari sebagai bentuk ekspresi budaya. Sejumlah seniman hingga kolektif muda turut hadir, menciptakan atmosfer ruang yang penuh dengan eksplorasi gerak dan pertukaran energi.
” Sepanjang acara, para hadirin disuguhi rangkaian gerak yang beragam. Esensi dari “Serah 1” adalah mengajak penonton untuk “mengalami” tontonan tersebut secara langsung. Kemudian memberikan tanggapan pasca pentas. Sebab keterlibatan penonton itu merupakan hal yang fundamental dalam rangkaian acara ini “, jelas Dian Puspita Sari selaku Ketua Dewan Kesenian Kudus.



Puncak dari rangkaian acara ini ditutup dengan sesi Dialog Kebudayaan. Sesi ini menjadi ruang diskusi terbuka yang cair namun berisi, melibatkan para seniman dan audiens yang hadir untuk bersama berbagi dan membangun makna di Kota Kudus bersama. Hal itu juga diungkapkan oleh Asa Jatmiko untuk terus bersemangat membangun ekosistem seni budaya yang berkelanjutan. Sebagaimana fungsi dari keberadaan forum Serah itu sendiri.
Dito Mora selaku penggiat kesenian juga memberikan masukan dan harapan untuk terus menggerakan ruang tersebut. Dimana bisa menjadi semacam ruang pertemuan dan dialog lintas karya.
” Langkah untuk mengawali program/wadah “Serah” ini agar DKK lebih bersosialisasi terkait program tsb dengan kelompok atau komunitas di kudus, mungkin ada komunitas belum tau adanya program Serah ini. Kalau bisa di tambahkan jika ada yang ingin mengajukan pertunjukan bisa ditambah narahubung di media. ” tuturnya”.



Kehadiran lintas komunitas seni seperti teater Satoesh, tigakoma dan seni kampus juga diharapkan memberikan warna dan perspektif tersendiri pada pertunjukan tari seperti aspek dramaturgi dalam gerak tari atau konsepsi suasana batin dalam panggung. Sehingga kedepan dapat bersama menciptakan narasi yang tidak hanya indah secara visual namun juga dalam secara makna. Interaksi antar disiplin inilah yang bisa memicu terjadinya persilangan gagasan yang segar, dimana batas-batas antara seni gerak, peran, dan rupa menjadi cair dalam satu panggung kebersamaan.
Kemudian dalam konteks peluncuran atau perayaan sebuah karya, produk literasi sering kali menjadi “jangkar” yang mengabadikan pemikiran para seniman agar tidak hilang begitu saja setelah pertunjukan usai. Kehadiran para tokoh seniman senior dalam dialog ini memberikan perspektif sejarah yang solid, sementara para seniman muda menyuntikkan semangat kebaruan.
Produk literasi dari platorm tersebut nantinya akan didistribusikan secara digital dan pada perjumpaan serah berikutnya untuk mengenal karya seniman sebagai bagian dari upaya memperluas akses literasi kebudayaan kepada masyarakat luas.
” Para peserta berharap inisiatif ini menjadi pemantik bagi seri-seri “Serah” berikutnya yang lebih inklusif dan kaya akan khazanah intelektual. ” tutup Dian Puspita Sari.


