

Pertunjukan teater tradisional Indonesia menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai. Sayangnya, pesona teater tradisional ini semakin meredup karena kurangnya perhatian dari masyarakat. Di sini, kami hadirkan beberapa pertunjukan teater tradisional yang masih bertahan hingga saat ini di seluruh Indonesia.

Ubrug
Ubrug yang berasal dari Pandeglang. Kesenian Ubrug merupakan bentuk teater rakyat yang terus dilupakan oleh penontonnya. Ubrug menggabungkan berbagai unsur seperti lakon, musik, tari, dan pencak silat dalam suasana komedi. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan ini merupakan perpaduan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu Betawi. Alat musik tradisional seperti gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk turut memeriahkan pementasan. Selain populer di Banten, kesenian Ubrug juga menyebar hingga ke Lampung dan Sumatera Selatan dengan menggunakan bahasa daerah setempat.

Lenong
Lenong yang merupakan seni pertunjukan tradisional masyarakat Betawi di Jakarta. Nama Lenong berasal dari seorang Saudagar China bernama Lien Ong yang sering menggelar pertunjukan teater ini untuk menghibur diri sendiri dan keluarganya. Lenong merupakan bentuk penentangan terhadap penjajahan kolonial pada masa lalu. Kesenian ini kemungkinan merupakan adaptasi dari komedi bangsawan dan teater stambul yang sudah ada sejak dulu. Musik gambang kromong juga memberikan pengaruh pada perkembangan Lenong sejak tahun 1920-an. Terdapat dua jenis Lenong, yaitu Lenong Denes yang menggunakan bahasa halus dan Lenong Preman dengan bahasa percakapan sehari-hari.

Ludruk
Ludruk merupakan seni panggung yang terkenal di Jawa Timur. Pemain-pemain dalam Ludruk semuanya adalah pria. Ludruk mengangkat cerita kehidupan sehari-hari dan perjuangan dengan sentuhan lawakan yang menghibur. Dialog dalam Ludruk menggunakan bahasa khas Surabaya, dan kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain dengan logat mereka masing-masing. Bahasa yang digunakan dalam Ludruk bersifat lugas, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat, termasuk yang tidak memiliki latar belakang intelektual.

Ketoprak
Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat populer, terutama di Yogyakarta dan Jawa Tengah, namun juga dapat ditemukan di Jawa Timur. Di daerah-daerah tersebut, ketoprak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, bahkan mengungguli kesenian rakyat lain seperti srandul dan emprak.
Asal-usul kata “ketoprak” ternyata berasal dari bunyi “prak, prak, prak”. Dalam Serat Pustaka Raja Purwa jilid II yang ditulis oleh pujangga R. Ng. Rangga Warsita dalam bukunya Kolfbunning tahun 1923, disebutkan bahwa bunyi “prak” merupakan dasar dari kata “ketoprak”, meskipun pada awalnya berasal dari alat bernama “tiprak”.
Selain itu, ketoprak juga berhubungan dengan “kothekan” atau “gejogan”, yakni alat musik yang terdiri dari lesung, kendang, dan seruling yang digunakan oleh pencipta ketoprak.
Salah satu ciri khas ketoprak adalah perhatian yang sangat besar terhadap penggunaan bahasa. Meskipun menggunakan bahasa Jawa, aspek etiket bahasa harus dipertimbangkan dengan serius. Bahasa Jawa memiliki tingkatan yang berbeda, antara lain:
Dalam ketoprak, tidak hanya tingkatan bahasa yang diperhatikan, tetapi juga kehalusan bahasa. Munculah yang disebut “bahasa ketoprak”, yaitu bahasa Jawa dengan ciri kelembutan dan kekhasan tersendiri.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana namun sarat dengan unsur tradisi Jawa, mulai dari struktur lakon, dialog, busana, hingga bunyi-bunyian musik tradisional, yang dipertunjukkan oleh masyarakat.

Longser
Longser adalah salah satu bentuk teater tradisional yang masyarakat Sunda di Jawa Barat nikmati. Kata “Longser” sendiri merupakan akronim dari kata “melong” (melihat dengan kagum) dan “saredet” (tergugah), yang berarti bahwa penonton yang menyaksikan pertunjukan Longser akan merasa tergugah di hati mereka.
Di dalam Longser, penekanan diberikan pada tarian yang disebut sebagai ogel atau doger. Sebelum Longser ada, ada bentuk teater tradisional lain yang disebut lengger.
Busana yang digunakan dalam kesenian ini sederhana namun mencolok, terutama busana yang dipakai oleh ronggeng. Biasanya, seorang ronggeng mengenakan kebaya dan kain samping batik. Sementara itu, pria mengenakan baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala.

Mamanda
Mamanda adalah seni teater tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya, Mamanda memiliki kesamaan dengan Lenong dalam interaksi antara pemain dan penonton. Interaksi ini membuat penonton terlibat aktif dan memberikan komentar-komentar lucu yang bisa membuat suasana lebih hidup.
Namun, terdapat perbedaan antara Lenong dan Mamanda. Lenong lebih mengikuti perkembangan zaman, sedangkan Mamanda tetap setia pada alur cerita yang berpusat pada kerajaan. Tokoh-tokoh dalam Mamanda merupakan tokoh-tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan Kedua, Khadam (Badut/Ajudan), Permaisuri, dan Sandut (Putri).
Istilah Mamanda diyakini digunakan karena dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan “pamanda” atau “mamanda” oleh Sang Raja. Secara etimologis, Mamanda terdiri dari kata “mama” (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar, dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi, Mamanda berarti paman yang terhormat, merupakan panggilan kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.
Asal usul Mamanda dimulai dengan kedatangan rombongan bangsawan Malaka pada tahun 1897 yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan istrinya, Cik Hawa, ke Tanah Banjar. Kesenian ini diterima dengan hangat oleh masyarakat Banjar dan mengalami adaptasi sehingga melahirkan bentuk teater baru yang dikenal sebagai “Mamanda”.
Mamanda merupakan kesenian drama yang sangat populer di kalangan masyarakat Kalimantan pada umumnya. Mamanda memiliki perbedaan dengan Tantayungan, yang juga merupakan teater tradisional Banjar (Kalimantan Selatan).

Randai
Randai adalah kesenian teater khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat, yang dimainkan oleh sekelompok orang atau kelompok regu. Nama “Randai” bisa diartikan sebagai “bersenang-senang sambil membentuk lingkaran,” mengacu pada posisi pemain yang berdiri dalam lingkaran besar dengan garis tengah mencapai lima hingga delapan meter. Cerita dalam Randai umumnya didasarkan pada cerita rakyat Minangkabau seperti Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.
Randai telah dipentaskan di berbagai tempat di Indonesia dan bahkan di dunia. Bahkan ada pertunjukan Randai dalam versi bahasa Inggris yang telah dipentaskan oleh sekelompok mahasiswa di University of Hawaii, Amerika Serikat.
Kesenian Randai menggabungkan berbagai elemen seni seperti drama (teater), musik, tari, dan pencak silat. Randai memiliki nilai-nilai etika dan estetika adat Minangkabau yang kaya, dan merupakan perpaduan dari berbagai seni yang berbeda.

Drama Gong
Drama Gong merupakan bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif baru, dihasilkan melalui penggabungan unsur-unsur drama modern (yang tidak tradisional Bali) dengan unsur-unsur seni tradisional Bali. Dalam banyak aspek, Drama Gong merupakan perpaduan antara teater modern (dari Barat) dengan teater tradisional Bali.
Awalnya, Drama Gong disebut sebagai “drama klasik” karena dominasi dan pengaruh seni klasik atau tradisional Bali yang kuat. Nama Drama Gong diberikan karena dalam pertunjukannya, setiap gerakan para pemain dan peralihan suasana dramatis diiringi oleh musik gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar).
Pertunjukan Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967, mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1970. Namun, sejak pertengahan tahun 1980, popularitasnya mulai menurun. Saat ini terdapat sekitar enam kelompok Drama Gong yang masih aktif.

Makyong
Makyong merupakan seni teater tradisional yang masih populer dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Makyong dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha Thailand dan Hindu-Jawa. Nama “makyong” berasal dari “mak hyang”, yang merupakan sebutan lain untuk dewi sri atau dewi padi.
Makyong berasal dari Pulau Bintan, Riau, dan berkembang sebagai kesenian istana pada abad ke-19 hingga tahun 1930-an. Pertunjukan Makyong dilakukan baik pada siang hari maupun malam hari, dengan durasi sekitar tiga jam.

Wayang
Wayang telah dikenal sejak zaman prasejarah, sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia mempercayai animisme dengan memuja roh nenek moyang yang disebut “hyang” atau “dahyang”, yang diwujudkan dalam bentuk patung atau gambar.
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003 sebagai sebuah karya kebudayaan yang memukau dalam bidang cerita narasi dan sebagai warisan kebudayaan yang sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Menurut G.A.J. Hazeu, dalam bahasa Jawa, “wayang” berarti “bayangan”, sedangkan dalam bahasa Melayu memiliki arti “bayang-bayang”. Arti tersebut merujuk pada konsep bayangan, samar-samar, atau menerawang. Bahasa Bikol, menurut Profesor Kern, mengartikannya sebagai “bayang” atau “barang” atau menerawang.