

Langkah para pengusung menara jenazah yang berdiri tegak diiringi alunan gamelan Bali. Sebuah arakan berlangsung, menjadi sorot perhatian orang-orang yang ingin menyaksikan. Mereka bersiap mengantar orang yang baru saja meninggal ke tempat pembakaran jenazah, ritual ngaben yang telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Bali. Sebuah upacara sakral dan penuh semangat, ngaben telah menjadi daya tarik wisata pulau dewata, merangkul ritus Hindu untuk membersihkan roh yang telah berpulang.
Dalam tulisan “Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama)” karya I Nyoman Singgin Wikarman, ngaben berasal dari kata “beya,” yang berarti bekal, atau disebut juga palebon, yang berasal dari kata “lebu,” yang artinya tanah atau debu. Proses peleburan jenazah dengan api dalam ngaben dianggap sebagai cara untuk mengubah tubuh manusia yang telah meninggal menjadi tanah, sehingga roh dapat kembali ke Sang Pencipta. Dalam keyakinan Hindu, Dewa Brahma, yang juga merupakan Dewa Api, diyakini menyucikan roh melalui api dalam upacara ngaben. Api dianggap sebagai manifestasi Dewa Brahma yang membersihkan segala kekotoran yang melekat pada jasad dan roh yang meninggal.
Keyakinan Hindu Bali mengenai manusia yang terdiri dari tiga lapisan—raga sarira, suksma sarira, dan antahkarana sarira—menjelaskan pentingnya ngaben. Raga sarira adalah tubuh fisik, suksma sarira adalah badan astral yang berisi pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu, sedangkan antahkarana sarira adalah roh yang memberikan hidup atau Sanghyang Atma. Setelah kematian, atma perlu diberangkatkan secepat mungkin untuk mencegah penderitaan, dan ngaben menjadi cara untuk memastikan badan kasar kembali ke alam asalnya, yakni tanah, air, api, udara, dan ruang.
I Nyoman Singgin Wikarman juga mencatat bahwa jika ngaben ditunda terlalu lama, roh dapat menjadi bhuta cuwil atau roh gentayangan. Kondisi serupa dapat terjadi jika jenazah dikubur tanpa upacara yang sesuai. Oleh karena itu, upacara ngaben bhuta cuwil mesti diadakan. Upacara ini menunjukkan urgensi dan keharusan upacara ngaben untuk memastikan roh dapat menuju tempat peristirahatan terakhir dengan aman dan damai.
Namun, upacara ngaben tidak hanya sekadar tradisi rohaniah. Dalam “The Changing World of Bali, Religion, Society and Tourism” karya Leo Howe, ngaben dianggap sebagai upacara mahal dan harus segera dilakukan oleh mereka yang memiliki cukup dana. Bahkan, jika yang meninggal adalah seorang pendeta, ngaben harus dilakukan secepatnya tanpa menyentuh tanah. Ini menunjukkan bahwa ngaben tidak hanya berfungsi sebagai upacara spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang signifikan.
Dalam persiapannya, seluruh penghuni banjar (rukun warga) turut serta membantu. Banyak persembahan dan persiapan arak-arakan dilakukan. Dua unsur penting dalam ngaben, badé (menara) dan patulangan (sarkofagus), harus dibuat dengan berbagai ukuran dan bentuk yang mencerminkan status sosial almarhum. Fenomena badé beroda yang muncul pada tahun 2000-an menunjukkan adaptasi untuk menyederhanakan prosesi ngaben tanpa mengorbankan esensi dan nilai tradisional.
Prosesi ngaben dimulai dengan arak-arakan, di mana setiap keluarga membawa foto atau jasad almarhum. Gamelan Bali mengiringi perjalanan menuju lokasi ngaben. Setelah jasad dibakar, sisa abu dimasukkan ke dalam buah kelapa gading untuk dilemparkan ke laut atau sungai yang dianggap suci, menyelesaikan rangkaian upacara dengan penuh simbolisme.
Namun, ngaben di Bali tidak hanya terbatas pada upacara pembakaran jenazah. Ada juga tradisi ngaben beya tanem, yang mencakup penguburan jenazah. Dalam “Studi Komparasi Ngaben Beya Tanem dengan Ngaben Bakar: Kajian Tradisi dan Sastra” karya Made Dharmawan, ngaben beya tanem dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh ajaran Majapahit dan tidak menghasilkan asap yang melewati gunung atau pura kahyangan jagat yang dianggap suci. Api dupa dalam ngaben beya tanem berfungsi sebagai saksi proses peleburan unsur panca mahabhuta.
Dengan demikian, ngaben di Bali bukan hanya sekadar upacara pembakaran jenazah, tetapi juga mencakup variasi seperti ngaben beya tanem. Dalam tradisi yang kaya makna ini, ngaben tidak hanya menjadi ritual sakral, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya, spiritualitas, dan kompleksitas sosial masyarakat Bali. Dalam upacara ini, api menjadi simbol kesucian, dan prosesi ngaben menjadi perjalanan roh menuju alam roh yang dipenuhi makna dan kearifan.



