
Di tulis oleh Imam Khanafi, Pojok Kliping
Pada akhir dekade 1930-an, nama Moeslich bin Soleh menggema hingga ke meja kerja pejabat tertinggi Hindia Belanda. Usahanya, pabrik Tebu dan Cengkeh di Desa Langgardalem, Kudus, menjadi tujuan kunjungan resmi Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh pada 19 Maret 1939. Dalam laporan De Indisch Courant edisi 18 Maret 1939 dan Haagsche Courant tanggal 17 Maret 1939, disebutkan bahwa rombongan pejabat kolonial itu disambut meriah dengan umbul-umbul berwarna oranye—warna kebesaran Kerajaan Belanda—sejak memasuki batas timur kota Kudus. Saat itu, nama Moeslich tidak sekadar menandai kejayaan industri lokal, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan Kudus sebagai pusat kretek yang harum hingga ke luar negeri.
Sosok Moeslich lahir sekitar tahun 1883 di kawasan Muria, tepatnya di Desa Bunggoro (kini wilayah Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus) [Solihin Salam, Kudus dan Sejarah Rokok Kretek, 1983: 25–26]. Ia bukan keturunan pengusaha besar, melainkan pekerja keras yang sempat merantau ke Solo dan Surabaya. Awal kariernya bermula dari kretek hasil tangan istrinya, Masrifah, yang ia bawa sembari berdagang batik—sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa sebelum kretek menjadi industri besar, ia berakar dalam tradisi saudagar batik Kudus Kulon.
Tahun 1914 menjadi titik balik ketika Moeslich meninggalkan profesi lamanya dan memutuskan menekuni usaha kretek secara penuh. Lima tahun kemudian, keuntungan yang diraih cukup untuk membiayai ibadah haji, dan dari situlah namanya berubah dari Moeltazam menjadi Moeslich—nama yang kelak melekat dalam sejarah kretek Kudus.
Dua dekade setelah menapaki usaha ini, Moeslich telah berdiri sejajar dengan para raksasa kretek. Peneliti kolonial Darmawan Mangoenkoesoemo mencatat dalam risetnya, Bijdragen tot de Kennis van de Kretekstrootjesindustrie in het Regentschap Koedoes (1929: 57), bahwa pada 1924, pabrik Moeslich termasuk dalam enam perusahaan kretek terbesar di Kudus. Luas kompleks produksinya mencapai 12.500 meter persegi, mempekerjakan lebih dari 4.000 orang, dan menghasilkan dua juta batang kretek per hari.
Pasarnya menembus Jawa Timur, Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Sisa kejayaannya masih bisa dilihat hingga kini: rumah megah di Kampung Puspitan, Langgardalem, dengan lantai tegel bergambar tebu dan cengkeh—simbol kejayaan seorang perintis yang membangun dari tangan kosong [Edy Supratno, Djamhari Penemu Kretek, 2016: 67].
Namun sejarah selalu bergerak bersama gelombang dunia. Menjelang Perang Dunia II, Moeslich membaca tanda-tanda zaman. Akhir 1938, ia memboyong seluruh keluarganya menunaikan haji untuk kedua kalinya—keputusan yang terbukti bijak, sebab tak lama kemudian perang global pecah dan rantai pasokan cengkeh dari Zanzibar tersendat. Setelah perang usai, namanya kembali muncul dalam pemberitaan tahun 1946 sebagai dermawan yang menolong para pengungsi di masa revolusi kemerdekaan [Masyarakat, 6 April 1946]. Dalam dunia yang bergolak, Moeslich tetap menjadi contoh pengusaha yang bukan hanya kaya, tetapi juga peduli pada sesama. Kisah Moeslich berakhir pada 7 Agustus 1956. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Elisabeth Semarang akibat serangan jantung dan dimakamkan di Pemakaman Krapyak, Kudus. Sejak saat itu, pabrik Tebu dan Cengkeh berhenti beroperasi [wawancara dengan Yudhi Ernawan, cucu Moeslich, 21 Juni 2024].
Meski hanya bertahan satu generasi, warisannya tak lenyap. Dari anak-anaknya lahir ikatan dengan keluarga besar pengusaha kretek lain—pernikahan antara anak-anak Moeslich dengan keturunan Nitisemito, Cap Roda, dan Cap Garbis menandai jejaring sosial ekonomi yang membentuk wajah industri kretek Kudus. Moeslich bukan sekadar peracik tembakau dan cengkeh; ia adalah penanda zaman, penghubung antara tradisi batik dan kretek, antara Kudus dan dunia, antara kerja keras dan keberkahan.
