
Oleh Imam Khanafi, editor buletin Mentas.id: Membaca Tengul di Ruang Teater Ketiga
BULETIN sering diposisikan sebagai medium pinggiran: pelengkap acara, suvenir intelektual pascapentas, atau dokumentasi yang dibaca sambil lalu. Ia jarang diperlakukan sebagai ruang berpikir yang otonom. Padahal justru di wilayah yang dianggap remeh itulah sering tersisa sesuatu yang tidak selesai di panggung.
Buletin Mentas.id: Membaca Tengul di Ruang Teater Ketiga mencoba bergerak melawan anggapan tersebut. Ia tidak hadir sebagai laporan netral atas sebuah pementasan, melainkan sebagai peristiwa lanjutan ruang pascapanggung tempat makna tidak dipertunjukkan, tetapi diuji; tidak disajikan, tetapi diganggu; tidak ditutup, tetapi dibuka kembali.
Jika teater pertama adalah ruang penciptaan (latihan, konflik artistik, perumusan gagasan), dan teater kedua adalah peristiwa pementasan (tubuh, suara, cahaya, dan waktu yang berlangsung), maka buletin ini berupaya bekerja sebagai ruang ketiga: wilayah refleksi yang tidak lagi bergantung pada tubuh aktor, melainkan pada tubuh pembaca tubuh yang duduk, membaca, berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan perasaan yang belum tentu nyaman.
Namun ruang ketiga bukan ruang aman. Ia tidak menjamin kejernihan, apalagi kesepakatan. Ia justru rentan: terhadap salah baca, kelelahan, bahkan penolakan. Di titik ini, buletin tidak sedang menawarkan kedalaman, melainkan memperpanjang ketidakselesaian.
Salah satu tawaran penting buletin ini adalah cara membacanya atas Tengul karya Arifin C. Noer. Lakon ini tidak serta-merta ditempatkan dalam tradisi absurditas Barat—Beckett dengan kekosongan eksistensialnya, atau Camus dengan absurditas kosmik yang tak berjawab.
Tengul dibaca sebagai absurditas struktural. Absurditas yang lahir bukan dari kehampaan makna, melainkan dari sistem sosial yang timpang, berulang, dan menutup kemungkinan keluar. Absurditas di sini tidak meniadakan harapan, justru memperlihatkan bagaimana harapan dipelihara secara kejam dalam situasi yang sejak awal tidak adil. Tokoh Tengul bukan manusia yang kehilangan iman pada hidup, melainkan manusia yang terlalu setia pada sistem yang terus mengkhianatinya. Ia berharap bukan karena sistem itu masuk akal, tetapi karena tidak ada alternatif lain. Absurditas menjadi tragis bukan karena hidup kosong, melainkan karena hidup dipaksa terus berjalan tanpa jaminan keadilan.
Buletin ini menunjukkan bahwa dalam konteks Indonesia, tragedi jarang mencapai katharsis. Ia tidak selesai dalam pembersihan emosi atau kesadaran moral. Tragedi justru berputar, diwariskan, dan dinormalisasi. Penderitaan menjadi latar permanen, bukan lagi peristiwa yang mengguncang. Di titik ini, Tengul bergerak dari tragedi ke tragikomedi. Penderitaan terlalu lama untuk ditangisi, terlalu dekat untuk diberi jarak estetik. Maka tawa muncul bukan sebagai pembebasan, melainkan sebagai strategi bertahan hidup.
Pilihan artistik pementasan, arena tapal kuda dengan penonton saling berhadapan, dibaca sebagai keputusan etis: penonton tidak lagi bersembunyi dalam gelap. Mereka hadir sebagai tubuh yang terlihat, disaksikan, dan saling menyadari keberadaannya. Relasi panggung dan penonton kehilangan kepolosannya. Tetapi keguncangan semacam ini tidak otomatis melahirkan refleksi. Ia bisa berhenti sebagai efek sesaat, gimmick artistik, atau kelelahan emosional. Yang dipertaruhkan bukan sekadar keberanian mengguncang, tetapi disiplin etis untuk merawat keguncangan itu agar tidak berubah menjadi kekerasan simbolik.
Bahasa verbal dalam Tengul bekerja secara terfragmentasi. Berulang, berisik, bahkan kehilangan daya komunikatifnya. Kata-kata gagal menyampaikan kebenaran. Yang berbicara justru tubuh: gerak mekanis, napas terengah, suara pecah, keringat, kelelahan. Namun tubuh tidak otomatis suci. Buletin ini membuka pertanyaan, kapan tubuh menjadi kesaksian, dan kapan ia tergelincir menjadi estetika penderitaan? Kapan humor menjadi kritik, dan kapan ia berubah menjadi kesadaran sementara kultural?
Dalam konteks Indonesia, tawa sering muncul bukan karena tragedi itu ringan, tetapi karena ia terlalu berat untuk ditangisi. Ketika katharsis gagal, penderitaan berisiko kehilangan bobot etiknya. Ketidakadilan tidak lagi memicu kemarahan, melainkan menjadi kebiasaan bahkan bahan lelucon. Di sinilah Tengul tidak mengajak kita tertawa, melainkan mempertanyakan tawa itu sendiri.

Kenapa bulletin ini perlu ? Penting karena di banyak praktik kita, begitu lampu padam dianggap tuntas, tepuk tangan menutup konflik, foto, unggahan, lalu pindah ke agenda berikutnya. Memperpanjang hidup karya, bukan untuk memuja, tapi untuk membiarkannya belum selesai. Tanpa buletin, teater mudah direduksi jadi peristiwa satu malam, habis, lewat, aman dan terjebak dalam pemaknaan sebagai event bukan peristiwa yang berdaya dan hidup.
Panggung bekerja dengan waktu yang kejam: real-time, tidak bisa berhenti, tidak bisa mengulang. Buletin memberi jeda, napas, ruang untuk pikiran yang terlambat. Ada hal-hal yang baru terasa setelah menonton, mengalami seperti rasa bersalah, tawa yang ganjil, kebosanan, bahkan penolakan.
Buletin adalah tempat di mana residu pengalaman itu boleh tinggal. Karena diskusi pascapentas sering terlalu sopan atau terlalu seremonial dan forum diskusi sering jatuh ke dua ekstrem yakni puja-puji, atau debat cepat yang ingin segera cerdas. Redaksi bekerja menghimpun suara yang beragam, sutradara, penonton, penulis, pengamat. Tidak ada otoritas tunggal atas makna.
Tafsir lahir dari gesekan, bukan dari kesepakatan. Mencoba berbicara bahwa seni tidak pernah selesai di tangan pembuatnya. Ia hidup sejauh visi dan prakteknya. Buletin ini hadir di celah itu. Bukan untuk membela seni, apalagi memutihkannya, tetapi untuk menahan kita sejenak sebelum kembali ke ritme normal yang sering kali sudah absurd sejak awal.
Tidak menjanjikan pencerahan, hanya mengulur lupa. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu cepat menertawakan tragedi dan terlalu mudah berdamai dengan ketidakadilan, mengulur lupa adalah satu-satunya bentuk perhatian yang masih etis.
Semoga bermanfaat. (*)



Doc Panggung III – Membaca Tengul di Ruang Teater Ketiga, 29 Januari 2026 di depan Sanggar Teater Tigakoma.
CATATAN PINGGIR.